Seorang agen penjual elpiji di Jakarta Selatan yang tidak mau disebutkan namanya menyebutkan, dia kerap membeli elpiji hasil oplosan karena selisih harga yang cukup tinggi dibandingkan pembelian dari distributor resmi.
Menurutnya, pembelian satu buah elpiji tabung 50 kg dari pengoplos, dia bisa mendapatkan untung hingga Rp 100 ribu lebih per tabung dibandingkan pembelian lewat agen resmi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk elpiji oplosan 12 kg, agen ini mengatakan selisih harga tidak terlalu tinggi dibandingkan pembelian dari agen resmi.
Di mana agen ini membeli elpiji oplosan tersebut? Dia tak mau merinci, namun diakuinya lokasi pembelian elpiji oplosan adalah di wilayah Cibogo, Pagedangan, Tangerang, Banten. Pembelian pun dilakukannya sejak setahun silam. Tempat tersebut dipenuhi dengan tabung elpiji 3 kg yang dioplos.
Menurutnya, selama pengambilan barang dari lokasi ke Jakarta, pihaknya khawatir berhadapan dengan aparat keamanan. Alasannya tahu sama tahu,
Selama setahun pengalamannya menjual elpiji hasil suntikan, agen ini mengaku tak pernah mendapat keluhan atau ada berita kebocoran elpiji.
Praktik ini jelas merugikan negara, karena selama ini negara memberikan subsidi kepada elpiji 3 kg yang diperuntukkan untuk orang miskin. Sementara elpiji 12 kg dan 50 kg tidak disubsidi, meskipun harganya tidak naik-naik, dan Pertamina merugi triliunan karena penjualan elpiji 12 kg ini.
(hen/dnl)











































