"Kami paling tinggi kena kenaikan tarif listrik tahun ini, dihitung-hitung setahun naiknya 27,5%, tentu ini memberatkan bagi kami," kata Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta, Handaka Santosa kepada detikFinance ketika dihubungi, Kamis (7/2/2012).
Apalagi Handaka mengaku pihaknya pengelola mal tidak pernah diajak berdiskusi pemerintah. "Kami mana pernah diajak diskusi, tahu-tahu naik," kata Handaka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa dilihat saja kalau kita ke mal, ruangan dingin dan nyaman bagi masyarakat yang datang, ini pakai AC (air conditioner) gratis dinikmati masyarakat, buat publik kok itu tidak dilihat pemerintah," cetusnya.
Apalagi tahun ini tidak hanya listrik yang membebani pengelola mal tahun ini, ada kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang naik cukup tinggi hingga 44% lebih, ada pula kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 50%.
"Apalagi tahun ini kami terbebani UMP naik tinggi, PBB naik 50%, ini ditambah lagi listrik naik 27,5%. Untuk menutupi kenaikan-kenaikan tersebut, kita naikkan service charge 10-15%, bahkan beberapa mal memilih untuk menaikkan tarif parkirnya," tandas Handaka.
(rrd/dnl)











































