Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) tiap tahun makin membengkak dan membebani keuangan negara. Apalalgi 75% BBM subsidi tidak tepat sasaran. Namun ditengah kondisi tersebut, produsen mobil justru menyarankan menggunakan BBM subsidi.
Jagoanya TANJAKAN, Interior MEWAH & LEGAAA, IRIT, Cukup Pakai Premium
Demikian tulis iklan salah satu produsen mobil asal Jepang tersebut yang dikutip detikFinance, dipersimpangan Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri ESDM Jero Wacik juga berulang kali berujar akan mengandeng salah satu produsen mobil untuk membuka bengkel pemasangan konverter kit, agar mobil baru atau mobil lama bisa dipasang konverter kit dan bisa menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG), dimana harga BBG masih murah yakni Rp 3.500 per lsp (setara 1 liter premium) dan hebatnya tanpa disubsidi oleh negara.
Namun hingga satu tahun lebih kepemimpinannya di Kementerian ESDM hal tersebut juga belum terasalisasi. Bahkan rencana program konversi BBM ke BBG tahun lalu dengan anggaran Rp 1,4 miliar pun gagal total.
Seperti diketahui, subsidi BBM tahun 2013 ini mencapai Rp 193,8 triliun jumlah ini terbilang sangat besar hanya sekedar untuk 'dibakar'. Sementara menurut Survei dan penelitian yang dilakukan Universiitas Gajah Mada (UGM) 75% subsidi BBM yang diberikan oleh negara tidak tepat sasaran. Artinya subsidi triliunan tersebut dinikmati oleh orang yang tidak perlu mendapatkan subsidi seperti orang kaya dan orang mampu.
Memang sampai saat ini tidak ada larangan orang kaya atau mobil baru menggunakan BBM subsidi. Namun masih layakkah subsidi triliunan tersebut terus diberikan hanya untuk menjual BBM dengan harga murah Rp 4.500 per liter? Sementara keuangan negara dikorbankan?
(rrd/dru)











































