"Kurang lebih 10 tahun lalu daerah ini tidak teraliri listrik. Dulu Supiori terkenal dengan sebutan 'Kampung Pelita'. Semua warga hanya memakai pelita. Buat warga yang mampu silakan pakai genset. Kalau tidak mampu pakai pelita," kata staf khusus Bupati Supiori bidang komunikasi pembangunan, Yohanis Koroh di Kantor Bupati Supiori, Kabupaten Supiori, Papua, Rabu (13/2/2013).
Sejak ada pemekaran wilayah pada tahun 2003, Supiori menjadi kabupaten dengan bupati yang pertama Yulianus Walika. Mulailah pembangunan infrastruktur jalan dimulai kendati diakuinya agak lamban. Sayang, Yulianus tersandung kasus korupsi hingga diteruskan wakilnya Benu S. Pemilihan Bupati digelar kembali pada 2007 namun molor hingga 2010. Fredrik Menufandu bersama Yan Imbab dilantik mengisi kursi bupati dan wakilnya pada 23 Desember 2011.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhirnya, sang bupati menemui PLN Biak meminta agar dibangun jaringan listrik di wilayahnya. Pembangunan jaringan listrik dikerjakan hingga pada 23 Desember 2011, listrik resmi masuk Supiori.
"Pembangunan ini mungkin tercepat di Indonesia. Karena listrik ditarik dari Biak sana ke Supiori sekitar 102 km. Mungkin juga yang terpanjang di kerjakan oleh PLN," tuturnya.
Pemkab Supiori kemudian memasang listrik prabayar kepada warganya, 6.000-7.000 Kepala Keluarga yang tersebar di 140 pulau dari 168 pulau dengan 5 distrik yang membawahi 38 kampung atau desa.
Pemasangan ini tentu dilaksanakan secara bertahap. Biaya pemasangan plus voucher perdana pulsa listrik Rp 100 ribu ditanggung Pemkab, untuk selanjutnya, warga sendiri yang akan membeli vouchernya.
Dari total jumlah itu, kini rasio elektrifikasi sudah mencapai 27 persen atau sekitar 1.900 Kepala Keluarga. Targetnya, hingga masa jabatan bupati selesai 2016, maka sisanya sudah harus terpasang listrik.
Sementara Wabup Supiori Yan Imbab menambahkan, pihaknya juga sedang mengkaji pembangunan PLTA di Wabudori. "Ada PLTA di Wabudori, 5 MW, sedang dikaji bersama Kementerian ESDM. Biayanya sekitar Rp 120 miliar," imbuhnya.
Yan berharap kabupatennya tak lagi jadi 'Kampung Pelita' bila listrik sudah masuk ke semua warga dan PLTA sudah bisa beroperasi di sini.
(nwk/hen)











































