Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengatakan, dari 10 perusahaan yang berhasil mendapatkan migas, sebagian besar yang didapat adalah gas. Sehingga pasokan produksi minyak Indonesia sulit bertambah.
"Bayangkan sejak 2001-2012 ada 174 Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) atau perusahaan minyak yang tanda tangan kontrak untuk eksplorasi, namun hanya 10 perusahaan saja yang dapat dan baru POD (plan of development/rencananya pengembangan), dan dari 10 yang POD sebagian besar hanya dapat gas bukan minyak, dan yang paling besar juga cuma di Blok Cepu, lainnya kecil-kecil," ungkap Susilo ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (15/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tidak bisa berharap dengan produksi minyak saat ini, jumlah produksinya malah terus turun dan sulit naik," ucap Susilo.
Padahal, kata Susilo, idealnya setiap 1 barel minyak yang dikonsumsi, harusnya diimbangi dengan penemuan 1 barel cadangan minyak.
"Idealnya yang diproduksi harus diganti dengan penemuan cadangan migas baru, celakanya eksplorasi kita tidak berjalan seperti yang seharusnya terjadi. Karena itu dalam waktu 1-5 tahun mendatang tidak akan bisa naik produksi kita. Karena yang ditemukan kecil-kecil, untuk mengurangi penurunan produksi kita menggunakan EOR (Enhanced Oil Recovery), kita minta Pertamina agar geber EOR-nya," tandas Susilo.
(rrd/dnl)











































