Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) menentang keinginan PT Pertamina menaikan harga gas Elpiji 12 Kg. Para pengusaha restoran dan kafe selama ini merupakan konsumen elpiji 3 Kg.
"Kami tidak setuju kalau harga gas LPG 12 Kg dinaikkan," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Eddy Sutanto, ketika dihubungi detikFinance, Minggu (24/2/2013).
Alasan Apkrindo menentang rencana kenaikan harga gas elpiji 12 kg karena sebagian besar pengusaha kafe dan restoran khususnya skala menengah kecil masih menggunakan tabung gas ukuran 12 Kg.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuturkan kontribusi gas elpiji 12 Kg terhadap biaya produksi pengusaha restoran dan kafe mencapai 5-10%.
"Apalagi gas itu sumbangan terhadap biaya produksi mencapai 5-10%, cukup besar. Apalagi ini mau dinaikkan dari Rp 70.200 per tabung menjadi Rp 95.600 per tabung," ucapnya.
Eddy mengatakan para pengusaha sudah terbebani dengan berbagai macam kenaikan terutama kenaikan upah pegawai dan kenaikan tarif listrik.
"Kita sudah mengalami berbagai beban kenaikan diawal tahun, seperti kenaikan upah dan tarif listrik, kalau semua-semua dinaikan termasuk gas, bisa mengancam usaha kami," tandas Eddy.
Seperti diketahui, PT Pertamina (Persero) berharap pemerintah segera memberi izin menaikan harga elpiji tabung 12 kg Rp 25.400 per tabung. BUMN ini sudah merugi Rp 16 triliun selama 4 tahun karena harga elpiji 12 kg tidak naik.
"Kalau dihitung-hitung kami rugi Rp 16 triliun sejak 4 tahun lalu mendistribusikan elpiji 12 kilogram," kata Vice President Gas Domestik Pertamina Gigih Wahyu ketika ditemui di Kantor Pertamina Pusat, Jakarta, Rabu (20/2/2013).
Jika tahun ini harga elpiji 12 kg tidak naik juga, maka Pertamina memperkirakan akan kembali merugi Rp 5 triliun.
(rrd/hen)











































