Kerugian ini menggerus laba bersih Pertamina yang seharusnya bisa mencapai US$ 3,23 miliar atau sekitar Rp 30 triliun, sementara laba 2012 hanya tercapai Rp 25,89 triliun.
"Kami mengalami kerugian dari elpiji non subsidi dan BBM PSO sebesar US$ 470 juta. Kalau tidak rugi, maka laba bersih Pertamina mencapai US$ 3,23 miliar melebihi target dari RKAP 2013," ujar Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Rabu (27/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti elpiji yang subsidi sebesar Rp 4.500 per Kg, yang tidak subsidi sebesar Rp 6.500 per kg. Tapi itu Pertamina masih subsidi juga karena harganya Rp 10.060," jelasnya.
Ali menyatakan kenaikan harga elpiji ini akan dilakukan secepatnya. Namun, dia masih enggan menyebutkan tanggal pastinya. "Tidak terlalu lama, tapi nantilah," pungkasnya.
(nia/hen)











































