"Kami akan bahas minggu depan kenaikan harga elpiji dengan mempertimbangkan inflasi, potensi migrasi ke tabung gas 3 kg, daya beli masyarakat dan seluruh aspek," kata Menteri Perekonomian Hatta Rajasa usai membuka acara Islamic Book Fair, di Istora Senayan Jakarta, Jumat (1/3/2013).
Hatta mengaku khawatir kenaikan harga elpiji bakal berdampak pada peralihan konsumsi masyarakat dari elpiji 12 kg menjadi 3 kg. "Itu jangan sampai memicu pengalihan konsumsi rumah tangga dari 12 kg ke 3 kg. Kalau itu terjadi subsidi bengkak. Tapi masyarakat rumah tangga menengah ini loyal kepada tabung 12 kg," kata Hatta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hatta mengaku, usulan Pertamina untuk menyesuaikan harga elpiji tersebut sudah benar. Hal itu terkait dengan komplain dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai kerugian Rp 5 triliun lebih yang dialami Pertamina, karena harga elpiji impor mengalami peningkatan sebesar US$ 917 per ton.
"Dari sisi korporasi, harga elpiji saat ini memberatkan untuk Pertamina karena pihak Pertamina mengalami kerugian lebih dari Rp 5 triliun setiap tahunnya," ujarnya.
Hatta dalam kesmepatan tersebut hadir membuka acara pameran buku Islam atau Islamic Book Fair yang diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta dan disponsori oleh BNI Syariah.
PT Bank Negara Indonesia (BNI) menargetkan bisa menggaet lebih dari 400 ribu pengunjung dalam acara pameran buku Islam atau Islamic Book Fair yang diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta.
Islamic Book Fair ke-12 tersebut dibuka oleh Menteri Perekonomian Hatta Rajasa. Pameran yang mengusung tema "Menuju Umat Berkarakter Quran" itu akan digelar selama 10 hari mulai tanggal 1 hingga 10 Maret 2012.
"Pameran ini akan menyuguhkan lebih dari 80 agenda acara edutainment. Setiap harinya akan mengangkat tema acara yang berbeda-beda dengan menghadirkan tokoh-tokoh nasional maupun internasional," kata Ketua Panitia Islamic Book Fair Khaerudin.
Hatta mengatakan, tidak ada bangsa yang maju dan unggul tanpa didukung dengan manusia yang unggul. Manusia yang unggul adalah yang memiliki knowledge melalui learning society, salah satunya dengan membaca.
"Dengan membaca bisa menjadikan manusia dan masyarakat yang berpengetahuan," ujarnya.
(dnl/dnl)










































