RI Tekor Impor BBM, Wamendag Minta Masyarakat Hemat

RI Tekor Impor BBM, Wamendag Minta Masyarakat Hemat

- detikFinance
Selasa, 02 Apr 2013 12:42 WIB
RI Tekor Impor BBM, Wamendag Minta Masyarakat Hemat
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Indonesia mengimpor BBM yang didominasi jenis premium US$ 2,57 miliar atau sekitar Rp 24,4 triliun pada Februari 2013. Naik 3,5% dibandingkan Januari 2013. Pemerintah meminta masyarakat menghemat konsumsi BBM.

Tingginya impor BBM ini membuat neraca perdagangan Indonesia defisit US$ US$ 1,1 miliar di Februari 2013. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menanggapi serius permasalahan klasik dan meminta masyarakat Indonesia untuk berhemat dalam menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

"Kita tidak impor minyak mentah tetapi kita banyak impor BBM yang sudah jadi yang digunakan langsung sebagai sumber energi. Kita ikuti dan ini habis karena. dibakar dengan defisit hasil minyak sebesar US$ 4,36 miliar. Oleh karena itu harus lebih berhemat lagi," kata Bayu saat melakukan jumpa pers di Gedung Kemendag, Jakarta, Selasa (2/04/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kamudian mengenai masalah kebijakan, pihaknya telah memberi masukan dan menyerahkan seutuhnya kepada Kementerian ESDM di bawah koordinasi Menko Perekonomian. Menurutnya upaya penghematan yang dicetuskan Komite Ekonomi Nasional (KEN) harus segera dijalankan.

"Kebijakan mengenai migas ini harus komprehensif. Kita dari Kemendag menyerahkan kepada ESDM di bawah koordinasi Menko Perekonomian untuk menentukan kebijakan BBM. Ini adalah fakta yang harus kita cermati bersama penghematan perlu dicermati dan dukung," tuturnya.

Namun ia mengapresiasi kinerja neraca perdagangan non migas yang berakhir surplus. Neraca perdagangan non migas bulan Februari 2013 surplus sebesar US$ 777,9 juta atau US$ 2 miliar (periode Januari-Februari 2013).

"Hal lain yang perlu kita garis bawahi untuk non migas dari total volue kita tumbuh 12,5% artinya barang yang dihasilkan Indonesia masih diminati di pasar internasional. Ini menunjukkan produk utama kita tidak mengalami pengurangan pangsa pasar tetapi harga produk menurun," cetusnya.

(wij/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads