Menteri BUMN Dahlan Iskan ingin menjelaskan kepada wartawan soal keinginannya agar Pertamina bisa mengambil alih sumur gas di Blok Mahakam, Kalimantan Timur. Tapi ternyata Dahlan cuma berbicara 1 menit.
Nasib pengelolaan sumur gas di Blok Mahakam memang tengah jadi polemik hangat saat ini. Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation sebagai pengelola Blok Mahakam, kontraknya akan habis pada 2017. Belum ada kepastian dari pemerintah soal penerus operator Blok Mahakam ini.
Dahlan yang awalnya janji menjelaskan kepada wartawan pukul 14.00 WIB di kantor Pusat Pertamina, ternyata cuma berbicara 1 menit saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang, kata Dahlan, sampai saat ini banyak yang meragukan kemampuan Pertamina, seperti yang terjadi saat Pertamina mengambil alih pengelolaan Blok West Madura Offshore (WMO) dari CNOOC.
"Produksi WMO memang sempat turun dari produksi sebelumnya 20.000 barel per hari, namun setelah diserahkan ke Pertamina produksinya turun di bawah 10.000 barel per hari," ungkap Dahlan.
Namun saat ini, kata Dahlan, produksi minyak di WMO berangsur-angsur meningkat, bahkan bisa naik lagi 100% menjadi lebih dari 30.000 barel per hari.
"Ada lagi ONWJ, sekarang produksinya meningkat drastis menjadi 40.000 barel per hari. Dengan melihat kapasitas tersebut keraguan dari berbagai pihak sudah terbantahkan," ujarnya.
Dahlan mengatakan, dirinya meralat pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa Pertamina bisa meraih keuntungan Rp 171 triliun di 2018 jika mengelola Blok Mahakam. "Saya salah itu, Rp 171 triliun itu kumulatif sampai 2032," tandasnya.
(rrd/dnl)











































