Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini mengungkapkan, perusahaan asing berani mengeluarkan dana investasi besar yang belum sanggup dilakukan perusahaan migas dalam negeri.
"Kita itu harusnya bersyukur perusahaan minyak asing masih mau ngebor minyak di Indonesia, bahkan harusnya berdoa agar mereka tidak pergi," kata Rudi ketika berkunjung ke Kantor Trans Corp, Jakarta, seperti dikutip Selasa (23/4/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudi menceritakan, industri minyak dan gas merupakan industri yang berisiko tinggi, padat modal, dan berteknologi tinggi.
"Untuk ngebor 1 sumur eksplorasi saja diperlukan dana US$ 200-US$ 500 juta, dan seperti kita ngebor air di rumah, belum tentu dapat air, belum tentu air yang di dapat jernih, begitu juga di minyak belum tentu ngebor dapat minyak, kalau ngebor nggak dapat minyak ya tidak ada yang ganti pulang cuma tinggal kolor saja," kata Rudi.
Sementara untuk mendapatkan minyak di Indonesia perlu 4-5 kali mengebor sumur baru ketemu, itu rata-rata.
"Bahkan banyak yang tidak dapat sama sekali, lain kalau ngebor minyak di Arab sekali ngebor langsung dapat, beda karena di sana banyak minyak cadangannya saja 150 miliar barel, lah Indonesia cuma 3 miliar barel," jelas Rudi.
Selain itu, tidak ada satu bank pun yang mau meminjamkan uang untuk eksplorasi minyak karena bank dilarang meminjamkan uang untuk sesuai proyek yang berisiko.
"Nah, sekarang siapa di negeri ini punya uang US$ 200 juta-US$ 500 juta yang mau kasih uang buat eksplorasi minyak yang belum tentu dapat minyak? Tidak ada. Belum lagi teknologi moderen harus diterapkan kalau tidak ya tidak bisa dapat minyak banyak seperti Pertamina yang semua ladang minyaknya masih virgin," ucapnya.
Untuk itu mengapa Indonesia perlu bantuan perusahaan minyak asing untuk membantu mengebor minyaknya.
(rrd/dnl)











































