Kepala Petugas Pegawas SPBU Kuningan, Jakarta Selatan Andry mengakui, masih banyak mobil pribadi yang masih menggunakan BBM bersubsidi. "Mobil pribadi masih banyak yang menggunakan BBM subsidi," ungkap Andry saat ditemui detikFinance, Kamis (25/04/2013).
Namun ia mengakui, saat ini kendaraan dinas plat merah sudah mulai beralih ke bensin pertamax pasca dikeluarkan peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2013 tentang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak. Dalam peraturan menteri itu, kendaraan dinas dan berplat merah dilarang untuk mengkonsumsi BBM bersusidi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pengamat transportasi Universitas Gajah Mada (UGM) Djoko Setijowarno kepada detikFinance menyatakan, pemerintah harus mengawasi betul bentuk penyaluran BBM. Bukan tidak mungkin jika pemerintah mini dalam melakukan pengawasan maka kuota BBM akan jebol seperti tahun 2012.
"Pemerintah harus melihat betul kondisi BBM saat ini yang rawan akan penyimpangan termasuk penyimpangan penjualan BBM kepada kendaraan pribadi. Ini yang harus diawasi dan diwaspadai agar tidak ada penyelewengan penggunaan BBM subsidi bagi kendaraan pribadi," cetusnya.
Banyaknya mobil-mobil mewah mengisi bensin premium ini menurut Direktur BBM Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Djoko Siswanto, karena bensin premium yang dijual di SPBU adalah pertamax dengan Ron 92. Ini akibat di dunia ini tidak ada bensin premium yang dijual, sehingga bensin yang diimpor Pertamina berjenis premix Ron 90 atau pertamax Ron 92.
Sebelumnya, Komisaris Utama Pertamina (Persero) Sugiharto mengatakan, saat ini tidak ada lagi negara yang menjual bensin premium Ron 88. Jadi yang diimpor adalah Ron 90 atau Premix.
"Ya memang menggunakan aturan berpuluh tahun selalu menggunakan Ron 88, namun saat ini yang menjual Ron 88 sudah makin langka di dunia," kata Sugiharto.
(wij/dnl)











































