Dalam data Pertamina yang dikutip detikFinance, Jumat (24/5/2013), terungkap bahwa biaya produksi BBM di kilang sendiri tak sepenuhnya diganti oleh pemerintah.
"Pasalnya realisasi biaya produksi atau HPP (harga pokok produksi) sejak 2006 hingga 2012 untuk BBM bersubsidi berkisar 101,6% sampai 105,1% MOPS (Mean of Platts Singapore)," ungkap Pertamina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertamina meminta pemerintah perlu mempertimbangkan untuk melakukan penambaan alpha untuk produk BBM yang berasal dari kilang," tulis Pertamina dalam data tersebut.
Kata Pertamina dalam datanya, kilang dalam negeri berperan sebagai penyeimbang harga jual produk BBM dalam negeri serta menyerap hasil produksi minyak mentah dalam negeri, yang merupakan sumber pendapatan negera cukup besar. Sehingga perlu diberikan potensi penghasilan untuk kelangsungan keberadaanya.
"Sedangkan perkiraan kebutuhan alpha tambahan untuk solar dari kilang dengan proporsi sekitar 80% atas HPP 105% MOPS (sekitar Rp 500 per liter) dibutuhkan alpha tambahan sekitar 4% (sekitar Rp 400 per liter) di atas MOPS," tulis data Pertamina.
Dari data ini, tersirat bahwa pembelian BBM lewat impor lebih menguntungkan.
Sekedar diketahui, per hari Indonesia impor minyak dalam bentuk BBM dan minyak mentah total mencapai 900.000 barel per hari.
Pasalnya produksi minyak Indonesia rata-rata 840.000 barel per hari itu belum dipotong bagian produsen minyak artinya jatah Indonesia hanya sekitar 540.000-560.000 barel per hari.
Sementara kebutuhan BBM Indonesia per harinya mencapai 1,4 juta barel, dan terus bertambah seiring pertumbuhan ekonomi dan penjualan kendaraan sepeda motor di mana ada tambahan sekitar 7,1 juta lebih sepeda motor per tahun dan 1,1 juta unit mobil per tahun.
(/)











































