Pemerintah berencana menaikkan harga BBM subsidi mulai Juni 2013. Harga premium menjadi Rp 6.500/liter dan solar subsidi Rp 5.500/liter. Tapi kenapa anggaran subsidi dan kuota BBM subsidi tetap bengkak?
Dalam bahan keterangan Menteri ESDM Jero Wacik kepada Komisi VII DPR yang dikutip, Jumat (24/5/2013), ada lima alasan yang menyebabkan subsidi BBM tetap bengkak, baik kuota ataupun anggarannya.
Karena itu, pemerintah melalui Menteri ESDM Jero Wacik mengajukan tambahan kuota atau jatah BBM subsidi sebesar 2 juta kiloliter (KL), dari 46 juta KL menjadi 48 juta KL.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Penjualan Kendaraan Meningkat
|
Foto: dok.detikFinance
|
Sementara untuk sepeda motor, penjualannya bakal mencapai 7,1 juta unit. Pemerintah menyatakan, sebagian besar motor dan mobil yang terjual pasti menggunakan BBM subsidi sebagai bahan bakarnya.
2. Harga BBM Subsidi Sangat Murah
|
Foto: dok.detikFinance
|
- Migrasi atau peralihan pengguna BBM non subsidi ke BBM subsidi.
- Masih adanya penyalahgunaan BBM bersubsidi, khususnya jenis minyak solar (Januari-April 2013 ada sekitar 876 juta liter solar yang disalahgunakan).
- Pengguna BBM subsidi belum tepat sasaran. Berdasarkan kajian, ada sekitar 70% BBM subsidi yang dikucurkan pemerintah ternyata dinikmati oleh orang yang bukan haknya.
- Kencenderungan pemborosan penggunaan BBM subsidi. Karena terlalu murah orang tidak berpikir untuk hemat BBM.
Β
3. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 6,2%
|
Foto: dok.detikFinance
|
Menteri ESDM Jero Wacik pernah mengatakan, banyak orang yang pergi liburan, tambah kendaraan, ini baik namun efeknya juga konsumsi BBM subsidi pasti naik.
4. Kebijakan Pelarangan Penggunaan BBM Subsidi Tak Efektif.
|
Foto: dok.detikFinance
|
5. Kuota BBM Subsidi 2013 Naik Sedikit
|
Foto: dok.detikFinance
|
Sementara pertumbuhan konsumsi per tahunnya mencapai 7% per tahun.
"Jadi sejak awal kita tentukan kuota, sudah dipastikan kuotanya tidak akan cukup, seharusnya tahun ini kuotanya 48 juta KL itu pun kalau ada penyesuaian harga BBM subsidi kalau tidak ada kuotanya bisa 53 juta KL lebih," tandas Menteri ESDM Jero Wacik.











































