5 Alasan Subsidi Tetap Bengkak Meski Premium Jadi Rp 6.500 dan Solar Rp 5.500

5 Alasan Subsidi Tetap Bengkak Meski Premium Jadi Rp 6.500 dan Solar Rp 5.500

Rista Rama Dhany - detikFinance
Jumat, 24 Mei 2013 11:49 WIB
5 Alasan Subsidi Tetap Bengkak Meski Premium Jadi Rp 6.500 dan Solar Rp 5.500
Foto: dok.detikFinance
Jakarta -

Pemerintah berencana menaikkan harga BBM subsidi mulai Juni 2013. Harga premium menjadi Rp 6.500/liter dan solar subsidi Rp 5.500/liter. Tapi kenapa anggaran subsidi dan kuota BBM subsidi tetap bengkak?

Dalam bahan keterangan Menteri ESDM Jero Wacik kepada Komisi VII DPR yang dikutip, Jumat (24/5/2013), ada lima alasan yang menyebabkan subsidi BBM tetap bengkak, baik kuota ataupun anggarannya.

Karena itu, pemerintah melalui Menteri ESDM Jero Wacik mengajukan tambahan kuota atau jatah BBM subsidi sebesar 2 juta kiloliter (KL), dari 46 juta KL menjadi 48 juta KL.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut lima alasan pemerintah yang dihimpun detikFinance:

1. Penjualan Kendaraan Meningkat

Foto: dok.detikFinance
Dalam keterangannya ke Komisi VII DPR, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, setiap tahun penjualan kendaraan terus meningkat. Di tahun ini saja, diperkirakan jumlah penjualan mobil baru akan mencapai 1,1 juta unit.

Sementara untuk sepeda motor, penjualannya bakal mencapai 7,1 juta unit. Pemerintah menyatakan, sebagian besar motor dan mobil yang terjual pasti menggunakan BBM subsidi sebagai bahan bakarnya.

2. Harga BBM Subsidi Sangat Murah

Foto: dok.detikFinance
Harga BBM subsidi yang saat ini Rp 4.500/liter dinilai sangat murah, jika dibandingkan dengan harga BBM non subsidi yang mencapai Rp 9.500-Rp 10.000 per liter. Tingginya selisih atau disparitas harga ini mengakibatkan beberapa hal:

  • Migrasi atau peralihan pengguna BBM non subsidi ke BBM subsidi.
  • Masih adanya penyalahgunaan BBM bersubsidi, khususnya jenis minyak solar (Januari-April 2013 ada sekitar 876 juta liter solar yang disalahgunakan).
  • Pengguna BBM subsidi belum tepat sasaran. Berdasarkan kajian, ada sekitar 70% BBM subsidi yang dikucurkan pemerintah ternyata dinikmati oleh orang yang bukan haknya.
  • Kencenderungan pemborosan penggunaan BBM subsidi. Karena terlalu murah orang tidak berpikir untuk hemat BBM.

Β 

3. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 6,2%

Foto: dok.detikFinance
Akibat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus melonjak di atas 6% membuat permintaan BBM naik, ini berimbas pada meningkatkan permintaan BBM subsidi.

Menteri ESDM Jero Wacik pernah mengatakan, banyak orang yang pergi liburan, tambah kendaraan, ini baik namun efeknya juga konsumsi BBM subsidi pasti naik.

4. Kebijakan Pelarangan Penggunaan BBM Subsidi Tak Efektif.

Foto: dok.detikFinance
Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 12 Tahun 2012 dan Permen ESDM Nomor 1 Tahun 2013 yang melarang penggunaan BBM subsidi untuk kendaraan dinas, perkebunan, kehutanan dan pertambangan serta kapal barang belum optimal dipatuhi. Sehingga penghematan konsumsi BBM subsidi yang didapat tidak terlalu banyak.

5. Kuota BBM Subsidi 2013 Naik Sedikit

Foto: dok.detikFinance
Di tahun ini, kata Jero, kuota BBM subsidi hanya 46,01 juta kiloliter (KL), padahal realisasi kuota BBM subsidi pada 2012 mencapai 45,27 juta KL.

Sementara pertumbuhan konsumsi per tahunnya mencapai 7% per tahun.

"Jadi sejak awal kita tentukan kuota, sudah dipastikan kuotanya tidak akan cukup, seharusnya tahun ini kuotanya 48 juta KL itu pun kalau ada penyesuaian harga BBM subsidi kalau tidak ada kuotanya bisa 53 juta KL lebih," tandas Menteri ESDM Jero Wacik.

Halaman 2 dari 6
(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads