Dalam keterangan tertulis Presiden Chevron Asia Pasific Exploration & Productioin Company, Melody Meyer menyatakan berterimakasih kepada Jeffrey atas kontribusinya yang signifikan kepada bisnis Chevron di Indonesia dan Filipina dalam 7 tahun terakhir.
Melalui kolaborasi dengan para mitra, memegang teguh nilai-nilai dan mendukung masyarakat sekitar, saya percaya kita akan melanjutkan keberhasilan tersebut." kata Meyer dalam keterangan tertulisnya, Senin (10/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taylor juga pernah memimpin Chevron Environmental Management Company. Dia bergabung dengan Chevron di tahun 1980 dan telah memegang berbagai posisi senior pada operasi eksplorasi dan produksi internasional di Nigeria, UK dan Indonesia.
"Merupakan suatu kehormatan untuk memimpin bisnis unit strategis dengan sejarah panjang dan kemitraan yang sukses," kata Taylor.
Chevron IndoAsia Business Unit mengelola aktivitas hulu minyak, gas dan panas bumi Chevron di Indonesia dan Filipina. Chevron telah menjalin kemitraan di Indonesia dan Philippina selama beberapa dekade.
Chevron merupakan penghasil minyak mentah terbesar di Indonesia, dengan operasinya di Riau, Sumatra, menghasilkan gas alam di Kalimantan Timur dan penghasil energi panas bumi terbesar di Indonesia.
Sebelumnya Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini, managing director Chevron IndoAsia Business sudah SMS untuk meminta izin segera diganti karena tidak tahan dengan kondisi Indonesia.
"Bahkan Presiden Chevron minta diganti, nggak tahan. Ini Serius, si Pak Jeffrey, dia mau cabut sudah minta izin SMS ke saya," ucap Rudi beberapa waktu lalu di Gedung DPR.
Seperti diketahui beberapa pegawai Chevron Indonesia tersandung kasus bioremediasi hingga terseret ke pengadilan. Chevron dan SKK Migas sendiri menegaskan tidak ada kerugian negara pada kasus bioremediasi tersebut.
(rrd/hen)











































