Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan keuntungan dari menaikkan harga BBM subsidi adalah kepastian perekonomian Indonesia ke depan. Salah satunya adalah terkait dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang beberapa waktu lalu sempat melemah.
"Kita dalam kondisi global yang sangat tidak pasti, rupiah, stock market (pasar saham) terpengaruh itu karena faktor eksternal dan internal. Eksternal tidak bisa, ada kebijakan internal untuk mengatasinya. Tapi yang bisa itu diatur adalah BBM dan trade balance (neraca perdagangan), ini buat fiskal sehat," ungkap Chatib di Gedung Djuanda Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (18/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan kenaikan ini maka ada ruang fiskal, komposisi anggaran lebih pro penduduk miskin. Sekarang kan 70% yang menikmati (subsidi) 20% teratas. Efeknya ke koefisien gini akan berkurang," sebutnya.
Selain itu, kenaikan harga BBM subsidi juga akan mendorong berkembangnya energi alternatif, seperti Bahan Bakar Nabati (BBN).
"Karena harga BBM subsidi begitu murah, sehingga bahan bakar lain itu menjadi kurang kompetitif. Jadi setelah dinaikkan, struktur harga nabati (BBN) menjadi kompetitif," ujar Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar menambahkan penjelasan Chatib pada kesempatan yang sama.
Mahendra juga menambahkan, kenaikan harga BBM subsidi sangat bermanfaat untuk pemerintahan selanjutnya. Lewat harga BBM subsidi yang sudah dinaikkan, maka ruang fiskal atau anggaran tidak sempit dan bisa digunakan untuk pembangunan perekonomian yang lebih produktif.
"Sekarang kan BBM sudah bisa dinaikkan, jadi pemerintahan selanjutnya lebih beruntung. Dari pada begitu masuk, sudah harus menyelesaikan hal ini. Sekarang bagaimana menjaga itu tahun 2014," tutupnya.
(dnl/dnl)











































