"Pembangunan kilang minyak yang menggunakan dana APBN nanti akan menggandeng Irak," ungkap Direktur Jenderal Migas, Edy Hermantoro, ketika ditemui di rumah makan di kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (26/6/2013).
Edy mengatakan, pihak dari Irak akan menjamin suplai minyak mentah ke kilang tersebut sebesar 300.000 barel per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, tidak ada alasan khusus pemerintah memilih Irak untuk membangun kilang. Pasca perang yang panjang, ekonomi Irak stagnan karena tidak ada kerjasama baru.
"Paska perang tidak ada kerjasama jangka panjang di Irak, kita masuk tujuannya untuk menjamin ketahanan energi negara kita, kebetulan produksi Irak mencapai 10 juta barel per hari, maka bisa dijadikan keterjaminan suplai ke kilang nantinya," jelasnya.
Sayangnya, Edy belum bisa memastikan kapan kilang minyak yang dibangun dari uang negara ini selesai dibangun.
"Kalau awalnya ditergetkan 2018 dengan dana Rp 90 triliun, tapi karena dulu kan sedang semangat-semangatnya mendorong pembangunan kilang yang dilakukan oleh pihak swasta (Pertamina-Saudi Aramco, Pertamina-Kuwait), tapi berhubung dua-duanya mandek, maka yang ini saja dulu didahulukan," kata Edy.
Edy juga masih merahasiakan lokasi tempat pembangunan kilang tersebut.
"Lokasinya masih RHS (rahasia), belum tentu di Plaju belum tentu juga di Bontang, nanti feasebility study (FS) akan dilakukan Pertamina dan tahun ini FS diharapkan selesai," tandasnya.
(rrd/ang)











































