Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Edy Hermantoro mengungkapkan, pemerintah sudah mewacanakan untuk mengubah BBM subsidi dari jenis premium menjadi premix/pertamax.
"Wacana ke sana sudah ada, tidak lagi premium yang disubsidi, tetapi pertamax atau Ron 90 (premix) yang disubsidi," ujar Edy ketika ditemui di rumah makan di Kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (26/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pertamax atau Ron 90 yang disubsidi kan berpengaruh pada besarnya subsidi BBM, walaupun selisih harga antara premium keekonomian dengan pertamax tidak terlampau jauh, ini masih dibahas teman-teman di keuangan (Kementerian Keuangan)," ungkapnya.
Selain itu, perlu disadari, kapasitas kilang yang dimiliki Indonesia sebagian besar masih memproduksi BBM jenis Ron 88/premium.
"Kalau kita dorong cepat-cepat, ternyata kilang kita tidak bisa produksi pertamax dalam jumlah banyak, kan rugi juga, jadi ini juga harus dibicarakan ke Pertamina kapan mereka siapnya, karena kilang mereka harus diupgrade lagi, itu yang membutuhkan waktu dan biaya," ucapnya.
Diakui Edy, BBM jenis premium dengan Ron 88 masih di bawah standar yang digunakan oleh negara-negara Eropa. "Di Eropa sudah standar Euro 3 dan Euro 4 lebih bersih bahan bakarnya, kita masih pakai premium yang masuk kategori standar Euro 2," katanya.
(rrd/dnl)











































