Kemenperin Lebih Suka Pendapatan Sektor Migas RI Turun

Kemenperin Lebih Suka Pendapatan Sektor Migas RI Turun

Rista Rama Dhany - detikFinance
Jumat, 28 Jun 2013 15:44 WIB
Kemenperin Lebih Suka Pendapatan Sektor Migas RI Turun
Foto: Reuters
Jakarta - Pihak Kementerian Perindustrian lebih suka apabila pendapatan Indonesia dari sektor migas bisa turun. Karena selama ini pendapatan sektor migas didorong oleh ekspor gas yang justri merugikan industri dalam negeri.

"Sampai saat ini sektor hulu migas masih menjadi andalan pendapatan negara. Namun saya justru lebih suka jika pendapatan sektor migas di hulu ini turun, karena dampaknya pasti bagus," ujar Direktur Jenderal Berbasis Industri dan Manufaktur Panggah Susanto ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (28/6/2013).

Dikatakan Panggah, penjualan migas terutama gas bumi ke luar negeri bisa dialihkan ke industri dalam negeri. Pemerintah lebih suka menjual gas ke luar negeri karena harganya jauh lebih tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui harga gas bumi ekspor dapat mencapai US$ 18 per mmbtu, sementara apabila dijual di dalam negeri paling tinggi antara US$ 8-9 per mmbtu.

"Namun jika gas tersebut dimanfaatkan industri dan mendorong daya saing pasti hasilnya jauh lebih baik, saya percaya itu," ungkapnya.

Dasar panggah adalah, berdasarkan pendapatan negara di sektor migas pada 2011 mencapai Rp 193,491 miliar, sebesar Rp 52,187 miliar dari pendapatan gas.

"Bandingkan dengan penerimaan dari non migas sebesar Rp 20,333 miliar dan dari PPh non migas jauh lebih besar yakni mencapai Rp 358,026 miliar, itu dari non migas belum diutak-atik dalam artinya pasokan gas ke industrinya masih kurang. Kalau ini cukup saya yakin pendapatan non migas akan jauh lebih tinggi lagi dibandingkan dari migas," ucapnya.

Untuk itu, kata Panggah, saat ini diperlukan adanya pembahasan dan kebijakan mengenaik harga gas bumi sesuai dengan keekonomian lapangan untuk menarik investo dengan tetap mempertimbangkan benefit dan nilai tambah yang dapat diperoleh, serta penyerapan tenaga kerja.

"Jadi tidak ada masalah kalau pendapatan negara disektor hulu migas turun itu lebih bagus. Tapi sayangnya realisasi ekspor gas tahun 2012 mencapai 51% atau sebesar 3,631 BBTUD sedangkan untuk domestik masih 49% atau sebesar 3,5 BBTUD," ujar Panggah.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads