"Di Hulu kan Rp 300 triliun setahun, sementara di hilir migas itu mencapai Rp 800 triliun per tahun, artinya apa? yang lebih menguntungkan itu bisnis yang dihilir," ujar Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Someng ketika berbincang dengan detikFinance, Minggu (30/6/2013).
Bisnis di hilir ini terdiri dari bisnis jual beli gas bumi melalui pipa, dan bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). "Potensi paling besar ada di SPBU, karena Indonesia masih sangat kekurangan SPBU," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini kan stok BBM kita yang dilakukan Pertamina mencapai 22 hari itu nasional, bandingkan negara lain yang mencapai 6 bulan bahkan 1 tahun, kalau makin banyak SPBU BBM bakal banyak tersimpan dikantong atau gudang penyimpanan BBM di SPBU," ujarnya.
Bahkan Andy mengungkapkan Pertamina tidak perlu khawatir jika makin banyak SPBU-SPBU asing di Indonesia, karena tujuannya satu yakni menyediakan BBM hingga ke pelosok Indonesia.
"Pertamina juga tidak perlu takut jika makin banyak SPBU-SPBU dari badan usaha lain (seperti Shell, Pertronas, Total dan lainnya) di Indonesia, karena Pertamina itu kuat, dia menguasai pasar, jalur distribusi BBM, armada yang besar, mereka kuasai semua," ungkapnya.
(rrd/hen)











































