"Setelah kenaikan harga, konsumsi BBM subsidi sempat turun 15 persen selama 10 hari pasca penyesuaian harga, dan sekarang sudah mulai naik," kata General Manager Marketing Operation Region V PT Pertamina Afandi kepada wartawan, Senin (8/7/2013).
Sementara konsumsi BBM non subsidi, Afandi menyebut mengalami kenaikan. Untuk pertamax selama Juni 2013 di Jatim, konsumsinya mengalami kenaikan 20%, dibandingkan periode Januari 2013. Bahkan untuk Pertamina DEX (solar non subsidi), konsumsinya mengalami kenaikan 25%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kata dia, meningkatnya penggunaan Pertamina DEX juga tidak lepas dari penjualan mobil diesel. "Kan memang seharusnya mobil seperti Pajero, Fortuner diesel harusnya menggunakan DEX, karena kalau menggunakan solar subsidi akan mempengaruhi sistem injeksi kendaraan," pungkas Afandi.
Pertamina Region V memprediksi kebutuhan BBM bersubsidi selama mudik lebaran H-7 hingga H+7 di Jawa Timur akan mengalami peningkatan. Untuk mengantisipasi kenaikan kebutuhan BBM bersubsidi, stok akan ditambah hingga 15%.
BBM subsidi jenis premium akan ditambah 15% atau 378.450 kiloliter (KL) dari konsumsi normal sebesar 329.500 KL. Sedangkan solar bersubsidi ditambah 10% atau sekitar 167.000 KL dari konsumsi normal 151.300 KL.
"Jumlah penambahan ini masih perkiraan sebeagai bentuk antisipasi awal. Karena saat ini kami lebih konsen terhadap konsumsi non BBM seperti LPG yang biasa naik selama ramadan," ujar Afandi.
Afandi juga menjamin stok BBM bersubsidi hingga lebaran untuk Jatim masih aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Serta dipastikan selalu tersedia di 6 Terminal BBM di Jatim. "Kita nantinya juga akan disuplai dari Kilang Refinery Unit IV Cilacap, Refinery Unit V Balikpapan dan impor via Terminal BBM di Tuban," ungkapnya.
Pihaknya juga telah meminta kepada seluruh pengelola SPBU agar buka 24 jam selama masa lebaran serta menjaga ketahanan stok BBM khususnya yang bersubsidi.
Pertamina, kata Afandi juga akan menambah waktu pelayanan di seluruh Terminal BBM hingga 24 jam pada H-7 hingga H+7. "Kami juga akan lakukan penambahan armada mobil tangki dan menyiapkan mobil tangki sebagai kantong BBM di beberapa lokasi yang rawan kritis," imbuh Afandi.
Sedangkan jalur rawan kritis BBM bersubsidi diprediksi terjadi di wilayah Jombang-Kediri serta Jalur Pantura yang dianggap sebagai jalur paling padat selama masa lebaran.
Siapkan Banyak Stok Elpiji
Selain itu, Afandi juga mengatakan pihaknya menyiapakan banyak stok elpiji untuk tabung 3 kg, 12 kg, dan 50 kg selama puasa dan menjelang lebaran.
Menurut Afandi, konsumsi elpiji selama ramadan bakal naik hingga 10 persen. "Kalau puasa ini yang kita siapkan LPG dan siapkan stok berlebih," katanya.
Selain untuk mencukupi kebutuhan selama ramadan, Afandi juga mengatakan pihaknya juga mengantisipasi peningkatan konsumsi elpiji saat libur lebaran dan lebaran ketupat dengan menyiapkan penambahan penyaluran hingga 10 persen dari kebutuhan normal.
"Kita akan tambah stok hingga 80.400 meterik ton (MT) atau naik 10 persen dari konsumsi normal sebesar 73.100 MT perbulan," ungkapnya.
Pihaknya, kata Afandi juga menginstruksikan kepada semua SPBE dan agen untuk meningkatkan buffer stok elpiji selama ramadan hingga lebaran.
Sementara untuk mengantisipasi pangkalan atau agen elpiji yang tutup saat lebaran, pihaknya juga menyediakan elpiji di SPBU. "Selama lebaran kita siapkan elpiji ukuran 3 kg dan 12 kg di 483 SPBU, dan stok di Depot elpiji di Tanjung Perak Surabaya, dan depot elpiji di Maspion-Gresik yang akan terus secara berlanjut agar stok tetap terpenuhi," tandas Afandi.
(ze/dnl)











































