Dikatakan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini, ada beberapa lapangan gas yang dimungkinkan untuk memasok gas ke PKG, namun perlu dicermati dahulu permasalahan-permasalahannya.
"Ada beberapa lapangan yang bisa dimungkinkan memasok gas ke PKG, yakni Lapangan MDA-MBH (Madura) Husky Oil, Tiungbiru,Jambaran & Cendana," ungkap Rudi ketikak dihubungi, Senin (8/7/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika dari Husky, harga gas memang lebih rendah jika dibandingkan dengan harga gas Blok Cepu yakni hanya US$ 6,5 per mmbtu ditambah toll fee US$ 1,14 per mmscf, gasnya jauh lebih baik, pipanya ada yakni menggunakan pipa eksisting East Java Gas Pipeline (EJGP) dan target onstreamnya lebih cepat yakni pada kuartal II 2016," kata Rudi.
Namun kata Rudi, volume gas yang berasal dari Husky lebih kecil dan jangka waktu yang lebih singkat.
"Volume gas dari Husky lebih kecil dan jangka waktu yang lebih singkat (120 mmscfd dengan plateau 85 lebih kurang 9 tahun saja), selain itu memerlukan pembeli baru untuk lapangan Tiung Biru," jelas Rudi.
Sedangkan jika melalui Lapangan Tiung Biru, Jambaran, dan Cendana, dari sisi volume gas jauh lebih besar yakni mencapai 185 mmscfd dan dalam jangka waktu 17 tahun.
"Namun harga gasnya jauh lebih mahal dibandingkan dari Husky yakni mencapai US$ 8 per mmbtu, selain itu kualitas gasnya kurang bagus karena kandungan CO2 dan H2S tinggi sementara target onstreamnya lebih lama juga yakni pada kuartal IV 2017," ungkapnya.
Kewenangan gas ke PKG ada di pemerintah terutama Kementerian ESDM, pro dan kontrak masih terjadi.
"SKK Migas akan selalu berpihak ke domestik, apalagi jatah gas untuk domestik makin tahun makin bertambah bahkan saat ini mendekati 49% dari total produksi gas," jelas Rudi.
(rrd/dnl)











































