Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, kenaikan harga elpiji 12 kg ini dilakukan karena Pertamina selalu rugi triliunan rupiah dari penjualan elpiji 12 kg.
"Tiap tahun kita rugi triliunan rupiah ketika harus menjual gas elpiji 12 kilogram. Tahun ini diperkirakan Pertamina rugi Rp 4 triliun-Rp 5 triliun lebih dari bisnis gas elpiji 12 kilogram. Dengan menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram, tentu akan mengurangi dampak kerugian Pertamina selama ini," ucapnya kepada detikFinance, Kamis (11/7/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Elpiji 12 kilogram ini lebih banyak dinikmati oleh kalangan mampu dan kaya, bahkan cafe dan restoran yang seharusnya tidak perlu disubsidi, apalagi yang mensubsidi ini adalah perseroan yang juga dituntut untuk menghasilkan dividen bagi negara. Lain halnya dengan elpiji 3 kg yang memang diperuntukkan untuk kalangan menengah ke bawah, negara masih memberikan subsidi dan tidak ada kenaikan harga," jelas Ali.
Sebelumnya diungkapkan Vice President Gas Domestik Pertamina Gigih Wahyu, biaya produksi elpiji 12 kg saat ini Rp 10.064 per kg. Sedangkan perseroan menjualnya jauh di bawah biaya produksi.
"Biaya produksi gas elpiji 12 kg adalah Rp 10.064 per kg, sementara Pertamina menjual ke agen atau eks Pertamina Rp 4.912 per kg. Artinya setiap kilogram elpiji 12 kg yang dijual Pertamina, Pertamina rugi Rp 5.152 per kg," ungkap Gigih beberapa waktu lalu.
Gigih merinci biaya produksi elpiji 12 kg tersebut di antaranya biaya bahan baku (landed) Rp 8.852 per kg, biaya costum & Duties Rp 229 per kg, biaya freight cost Rp 365 per kg, biaya transportation fee Rp 277 per kg, biaya filling fee Rp 188 per kg, dan biaya operasi lainnya Rp 154 per kg.
Sementara itu, hampir sebagian besar elpiji saat ini dimpor Pertamina dari luar negeri berdasarkan harga CP Aramco, yang tiap tahun selalu meningkat.
"Pada 2008 harga CP Aramco mencapai US$ 780 per metrik ton (MT) saat itu Pertamina sudah rugi Rp 4,7 triliun ketika menjual gas elpiji 12 kilogram, pada 2009 sempat turun US$ 515/MT sehingga kerugian Pertamina di elpiji 12 kg turun hanya menjadi Rp 1,1 triliun," ungkap Gigih.
Namun pada 2010 harga CP Aramco naik kembali jadi US$ 715/MT, namun karena pada akhir 2009 ada penyesuain harga elpiji 12 Kg dari Rp 5.750 per kg menjadi Rp 5.850 per kg kerugian Pertamina di elpiji 12 kg menjadi Rp 2,1 triliun.
"Namun pada 2011 harga elpiji CP Aramco naik lagi menjadi US$ 858/MT sehingga kita rugi lagi Rp 3,37 triliun, kemudian pada 2012 sampai akhir desember harga rata-rata CP Aramco sudah mencapai US$ 917/MT sehngga kerugian kita mencapai Rp 4,69 triliun, dan diprediksi pada 2013 ini diperkirakan harga CP Aramco naik menjadi US$ 910,721 per MT sehingga kita rugi Rp 5 triliun," kata Gigih.
(rrd/dnl)











































