Sistem Subsidi Tetap BBM Chatib Basri Didukung Wamen ESDM

Sistem Subsidi Tetap BBM Chatib Basri Didukung Wamen ESDM

- detikFinance
Jumat, 12 Jul 2013 17:03 WIB
Sistem Subsidi Tetap BBM Chatib Basri Didukung Wamen ESDM
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Pemerintah mengajukan sistem subsidi BBM baru yakni subsidi tetap, agar anggaran subsidi tidak jebol. Wakil Menteri ESDM Susio Siswoutomo mendukung keinginan Menteri Keuangan Chatib Basri tersebut.

Menurut Susilo, ide subsidi tetap tersebut merupakan ide yang sudah lama yang lakukan Kementerian ESDM.

"Itu ide sudah lama, sudah dari kami sejak lama dan tentunya kami sangat mendukung jika Kementerian Keuangan juga mengusulkan resmi ke DPR," ucap Susilo ketika ditemui dalam acara Buka Bersama Kementerian ESDM, di Plaza ESDM, Jakarta, Jumat (12/7/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Susilo, sistem subsidi tetap BBM ini diyakini akan membuat postur APBN menjadi lebih stabil, karena subsidi selama satu tahun tidak berubah.

"Saat ini kan subsidi naik terus, seiring naiknya harga minyak dunia dan melonjaknya konsumsi BBM. Kalau dipatok tetap, misalnya Rp 3.000 per liter, maka jika harga premium tidak bersubsidi Rp 10.000 per liter, harga BBM-nya Rp 7.000 per liter. Kalau turun Rp 9.000, maka harga BBM-nya Rp 6.000 per liter," jelas Susilo.

"Yang jelas itu ide yang sangat bagus jika benar-benar diterapkan, APBN kita akan lebih sehat dan terjaga," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, subsidi energi masih tetap menjadi fokus RAPBN 2014. Pemerintah tengah mempersiapkan skema khusus untuk belanja subsidi energi, terutama soal BBM bersubsidi.

"Skema ini, satu saya mesti bilang bahwa kemarin ada pembicaraan bahwa dengan komisi XI kemudian juga dengan Banggar, bahwa disepakati bahwa pemerintah itu mengeksplor mengkaji kemungkinan subsidi tetap," ungkap Chatib.

Yang dimaksud sistem subsidi tetap BBM adalah, pemerintah memberikan subsidi dengan nilai tetap untuk tiap liter BBM. Misalkan 1 liter diberi subsidi Rp 2.500, nanti apabila harga minyak naik atau turun, subsidi tidak membengkak dan tetap. Sehingga nantinya harga premium atau solar subsidi akan berfluktuasi mengikuti harga minyak internasional.

"Itu misalnya sekarang harga minya di pasar internasional itu sekitar Rp 9.000. Harga domestik Rp 6.500. Selisih Rp 2.500. Per liter itu ditaruh Rp 2.500. Nah saya nggak tahu nanti angkanya berapa apakah ini bisa atau nggak, ini mesti dikaji lagi. Jadi nanti dari sana subsidinya tetap Rp 2.500, jadi misalnya naik Rp 10.000, maka harga subidi tetap Rp 2.500, domestiknya jadi Rp 7.500," paparnya.

Chatib belum dapat memastikan ada penghematan yang cukup signifikan dari skema tersebut. Pemerintah dan DPR mengatakan, menurutnya memiliki waktu pembahasan selama kurang lebih 3 bulan, hingga APBN 2014 disepakati.

Namun terkait dampak inflasi, Chatib menilai skema itu tidak akan berdampak terlalu buruk. Sebab, kenaikan harga minyak internasional tidak akan terjadi setiap hari.

"Nggak akan terlalu banyak, kan harganya naik nggak akan per hari. Di negara lain itu, harganya fluktuasi itu tidak ada masalah inflasi. Ini juga pernah dilakukan pada zaman Presiden Megawati," ujarnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads