Minyak Pertamina Terus Dijarah di Sumsel, Ini Tanggapan Kapolri dan Jero Wacik

Minyak Pertamina Terus Dijarah di Sumsel, Ini Tanggapan Kapolri dan Jero Wacik

- detikFinance
Senin, 29 Jul 2013 12:30 WIB
Minyak Pertamina Terus Dijarah di Sumsel, Ini Tanggapan Kapolri dan Jero Wacik
Foto: Pencurian Minyak (Rista-detikFinance)
Jakarta - Sampai saat ini minyak Pertamina yang disalurkan melalui pipa anak usahanya yaitu PT Pertagas yang berada di Sumatera Selatan, selalu menjadi korban pencurian. Apa rencana kepolisian dan Kementerian ESDM?

Pipa minyak Pertagas yang sering jadi korban penjarahan berlokasi di Tempino-Plaju Sumsel. Sejak 1 Januari hingga 23 Juli 2013, nilai kerugian Pertamina karena minyaknya dicuri di wilayah ini telah mencapai sekitar Rp 280 miliar.

Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Timur Pradopo mengatakan, dirinya telah mengirim Komjen Pol. Sutarman ke lokasi pencurian minyak di Sumsel. "Kita tunggu laporan Kabareskrim. Itu kan panjang ya, sangat panjang, jadi itu yang membuat jadi masalah," ujar Timur di kantor Presiden, Jakarta, Senin (29/7/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jalur pipa baru Tempino-Plaju memiliki panjang aktual 260 km. Karena sering dicuri, Pertamina akhirnya memutuskan menghentikan produksi minyak lewat pipa ini.

Di tempat yang sama, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, tindakan pencurian ini tidak bisa dibiarkan. Dirinya sudah melapor ke pihak kepolisian soal pencurian ini.

Jero mengatakan, saat ini produksi minyak lewat pipa itu dihentikan sementara sampai dicari dulu pencurinya. Setelah selesai, produksi minyak akan dijalankan kembali.

Jalur pipa minyak Tempino-Plaju yang dikelola oleh PT Pertagas, anak perusahaan Pertamina, dioperasikan secara komersial sejak 17 Juli 2013 setelah melalui masa pra dan commissioning sejak 9 Juli 2013. Jalur pipa tersebut menggantikan pipa lama yang sudah tidak aman untuk dioperasikan karena terlalu banyak mengalami kerusakan akibat aksi illegal tapping yang tidak bisa dikendalikan.

Rata-rata losses selama sepekan operasi komersial tersebut telah mencapai 18% dari rata-rata penyaluran 12.000 barel per hari (bph). Apabila dilihat trennya, losses cenderung meningkat dari semula hanya 4,45% pada hari pertama hingga terakhir sempat mencapai 39,5%.
(dnl/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads