Bos Pertamina: Yang Menjarah Minyak Kami Tidak Satu-Dua, Tapi Ratusan

Bos Pertamina: Yang Menjarah Minyak Kami Tidak Satu-Dua, Tapi Ratusan

- detikFinance
Senin, 29 Jul 2013 17:11 WIB
Bos Pertamina: Yang Menjarah Minyak Kami Tidak Satu-Dua, Tapi Ratusan
Foto: Pencurian Minyak (Rista-detikFinance)
Jakarta - Pihak PT Pertamina (Persero) menghentikan produksi minyaknya lewat pipa Tempino-Plaju, Sumatera Selatan karena sering dicuri atau dijarah. Pelaku pencurian minyak ini jumlahnya hingga ratusan.

Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, pihaknya sudah berulang kali mengirim surat kepada pihak-pihak keamanan yang berwenang untuk mengamankan pencurian lewat pipa-pipa minyak tersebut. Namun pencurian masih saja terjadi.

"Kami sudah berapa kali mengirim surat dan beberapa kali berbicara dengan pihak yang menangani itu, ini secara masif, tapi yang dijarah bukan satu dua, tapi ratusan," kata Karen saat ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (29/7/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Karen, penghentian produksi minyak Pertamina di wilayah tersebut dilakukan untuk keselamatan. Karena minyak yang bocor tersebut rawan terbakar dan meledak.

"Saya tidak melihat sisi kerugian tapi aspek keselamatan. Ya memang kita hentikan operasinya, tidak mau kalau terjadi sesatu kita berhubungan dengan zat yang mudah terbakar," ujar Karen.

Menurut Karen, pihaknya selaku perusahaan pengelola pipa tersebut sangat berpegang pada aturan keselamatan (HSE-Health, Safety, and Environment).

"Itu juga sebagai perusahan tentunya konsen terhadap HSE, kami mengambil kesimpulan ini dihentikan," jelasnya.

Seperti diketahui, jalur pipa minyak Tempino-Plaju dikelola oleh anak usaha Pertamina yakni PT Pertagas. Pipa ini dioperasikan kembali secara komersial sejak 17 Juli 2013, setelah melalui masa uji coba mulai 9 Juli 2013. Jalur pipa tersebut menggantikan pipa lama yang sudah tidak aman untuk dioperasikan karena terlalu banyak mengalami kerusakan akibat aksi illegal tapping yang tidak bisa dikendalikan.

Awalnya sempat muncul harapan aksi penjarahan benar-benar akan berhenti karena tingkat losses dapat dikatakan hampir tidak ada. Namun begitu pipa dioperasikan secara komersial, losses kemudian terjadi dan terus meningkat bahkan mencapai 5.000 barel per hari (bph).

Rata-rata kehilangan selama sepekan operasi komersial tersebut telah mencapai 18% dari rata-rata penyaluran 12 ribu bph. Apabila dilihat trennya, kehilangan cenderung meningkat dari semula hanya 4,45% pada hari pertama hingga terakhir sempat mencapai 39,5%.

Dalam sepekan saja, kehilangan minyak telah mencapai sekitar 17.500 barel atau setara dengan Rp 17,5 miliar. Jika kehilangan dihitung dari 1 Januari hingga 23 Juli 2013, nilai kerugian telah mencapai sekitar Rp 280 miliar.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads