Penampakan Pipa Minyak Pertamina yang Dilubangi Pencuri

Penampakan Pipa Minyak Pertamina yang Dilubangi Pencuri

- detikFinance
Rabu, 31 Jul 2013 10:58 WIB
Penampakan Pipa Minyak Pertamina yang Dilubangi Pencuri
Jakarta - Jalur pipa minyak Tempino-Plaju yang dikelola oleh anak usaha Pertamina yakni PT Pertagas dirusak pihak tak bertanggung jawab. Pipa tersebut dirusak supaya minyaknya bisa dijarah.

Jalur pipa baru Tempino-Plaju memiliki panjang aktual 260 km. Karena sering dicuri, Pertamina akhirnya memutuskan menghentikan produksi minyak lewat pipa ini.

Pipa ini dioperasikan kembali secara komersial sejak 17 Juli 2013, setelah melalui masa uji coba mulai 9 Juli 2013. Jalur pipa tersebut menggantikan pipa lama yang sudah tidak aman untuk dioperasikan karena terlalu banyak mengalami kerusakan akibat aksi illegal tapping yang tidak bisa dikendalikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya sempat muncul harapan aksi penjarahan benar-benar akan berhenti karena tingkat losses dapat dikatakan hampir tidak ada. Namun begitu pipa dioperasikan secara komersial, losses kemudian terjadi dan terus meningkat bahkan mencapai 5.000 barel per hari (bph).

Rata-rata kehilangan selama sepekan operasi komersial tersebut telah mencapai 18% dari rata-rata penyaluran 12 ribu bph. Apabila dilihat trennya, kehilangan minyak cenderung meningkat dari semula hanya 4,45% pada hari pertama hingga terakhir sempat mencapai 39,5%.

Dalam sepekan saja, kehilangan minyak telah mencapai sekitar 17.500 barel atau setara dengan Rp 17,5 miliar. Jika kehilangan dihitung dari 1 Januari hingga 23 Juli 2013, nilai kerugian telah mencapai sekitar Rp 280 miliar.

Berikut ini situasi terkini serta bukti-bukti yang sudah didapat Pertamina mengenai pencurian minyak tersebut seperti dikutip detikFinance, Rabu (31/7/2013).


1. Pencurian di-backing oknum aparat keamanan

Pencurian minyak milik Pertamina sulit diberantas karena aksi tersebut dibeking oleh oknum aparat keamanan.

"Pencurian minyak itu juga dibekingi oknum aparat keamanan, karena seperti terorganisir, kalau tidak dibekingi pasti tidak sesukar ini pengungkapan kasus pencurian minyak," kata Manager Humas PT Pertamina EP Agus Amperianto kepada detikFinance.

Pertamina telah meminta bantuan BP Migas, Kepolisian, TNI sampai Polhukam, untuk menghentikan kasus pencurian minyak mentah tersebut.

"Kita sudah minta bantuan BP Migas, Kepolisian, TNI sampai Polhukam, bahkan tim Polhukam sudah datang beberapa waktu lalu untuk menghentikan aksi pencurian minyak mentah ini yang sudah terjadi dari tahun ke tahun," ujarnya.

2. Oknum pencuri 50 orang bersenjata api

Aparat yang hendak menangkap para pencuri minyak ini harus mundur karena terkepung ternyata para pencuri minyak itu menggunakan senjata api.

"Tahun 2013, pencurian melibatkan jumlah yang lebih banyak, pelakunya sudah menggunakan senjata api, senjata tajam dan dilakukan kelompok besar, bukan seperti mencuri lagi tapi sudah menjarah minyak mentah kami," ucap Vice President Legal & Relation Pertamina EP Aji Prayudi.

Dikatakan Aji, bahkan aparat keamanan yang terdiri dari Pertamina, Pertagas, Elnusa, Polisi dan TNI harus lari menyalamatkan diri ketika menangkap basah pencurian minyak karena jumlah pencurinya lebih dari 50 orang.

"Sementara tim gabungan hanya berjumlah 15 orang tapi pencurinya 50 orang lebih dan parahnya lagi tidak hanya bersenjata tajam tapi juga senjata api," kata Aji.

3. Pertamina rugi Rp 280 miliar dalam 7 bulan

sejak Januari hingga 23 Juli 2013, nilai kerugian yang dialami Pertamina akibat pencurian di pipa minyak tersebut mencapai Rp 280 miliar.

"Dalam sepekan saja, kehilangan minyak telah mencapai sekitar 17.500 barel atau setara dengan Rp 17,5 miliar. Jika kehilangan dihitung dari 1 Januari hingga 23 Juli 2013, nilai kerugian telah mencapai sekitar Rp 280 miliar. Ini adalah kerugian negara karena dari minyak-minyak yang dijarah itu sebagian besarnya milik negara," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir.

4. Rogoh Rp 760 miliar untuk pipa 'Anti Curi', tapi minyak tetap dijarah

Untuk menangkal pencurian, Pertamina membeli pipa pendam 1,5 meter di dalam tanah US$ 80 juta atau sekitar Rp 760 miliar. Namun cara itu gagal karena pencurian tetap terjadi.

Dulu pencurian minyak marak terjadi, karena ada pipa minyak di bawah tanah tersebut digali dan dilubangi untuk dicuri minyaknya.

"Untuk menghindari pencurian, Pertagas membangun pipa baru di jalur Tempino-Plaju sepanjang 242 kilometer yang dibangun pada 2011 dengan biaya US$ 80 juta," kata Direktur Utama PT Pertagas, Gunung Sardjono Hadi.

Pergantian pipa ini untuk mengantikan pipa yang sudah lama dan sebagian besar sudah dilubangi para pencuri minyak. "Pipa ini untuk mengaliri minyak dari sumur minyak di Tempino ke kilang minyak pertamina di Plaju sebanyak 12.000 barel per hari," ungkap Gunung.

Namun walau pipa sudah diganti dan dipendam di dalam tanah sedalam 1,5 meter dengan menghabiskan US$ 80 juta, pencurian malah makin marak terjadi.

5. Tak mau lanjutkan produksi sebelum ada jaminanan keamanan dari Polisi dan TNI

Pertamina tak mau memproduksi minyak lagi di tempat tersebut tanpa jaminan polisi dan TNI. Lewat penghentian produksi ini, maka minyak Pertamina yang tidak diproduksi adalah 12 ribu barel per hari.

Penghentian produksi ini akan menurunkan produksi dan lifting minyak Indonesia, dan tentunya akan menurunkan pendapatan negara.
Halaman 2 dari 6
(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads