Tekan Impor Solar, Pemerintah Perbesar Konsumsi Biodiesel Dalam Negeri

Tekan Impor Solar, Pemerintah Perbesar Konsumsi Biodiesel Dalam Negeri

Mega Putra Ratya - detikFinance
Jumat, 23 Agu 2013 12:35 WIB
Tekan Impor Solar, Pemerintah Perbesar Konsumsi Biodiesel Dalam Negeri
Jakarta -

Pemerintah akan meningkatkan penggunaan biodiesel (biofuel) dalam negeri dalam rangka menekan impor BBM khususnya solar. Kebijakan ini dalam rangka memperbaiki neraca transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah, sebagai bagian 4 paket ekonomi pemerintah.

"Menurunkan impor migas, dengan memperbesar biodiesel dalam solar untuk mengurangi konsumsi solar dari impor. Kebjakan ini akan menurunkan impor migas secara signifikan," kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Istana Negara, Jakarta, Jumat (23/8/2013)

Menurut Hatta, pemerintah juga akan melakukan langkah-langkah mendorong ekspor dan memberikan pengurangan pajak kepada industri yang berorientasi ekspor, untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Hatta, gejolak di pasar keuangan dipicu oleh kekhawatiran memburuknya neraca perdagangan, karena neraca berjalan menunjukkan defisit 4,4% dari PDB.

"Pemerintah mengambil langkah-langkah stabilitasi ekonomi dalam jangka pendek," katanya.

Seperti diketahui kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri makin meningkat tiap tahun, sementara jumlah kilang tidak bertambah. Hasilnya, Indonesia harus ketergantungan impor BBM.

Sekretaris Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Djoko Siswanto mengatakan, untuk bensin jenis premium, dalam setahun produksi dari kilang di dalam negeri adalah 12 juta kiloliter (KL). Sementara total kebutuhan dalam negeri adalah 30 juta KL per tahun.

Indonesia harus mengimpor premium 18 juta KL per tahun untuk mencukupi kebutuhan BBM nasional. Tak hanya premium, Indonesia juga harus mengimpor 5 juta KL solar per tahun untuk mencukupi kebutuhan solar dalam negeri yang mencapai 16 juta KL.

"Karena kapasitas kilang kita hanya mampu produksi solar maksimal 11 juta KL per tahun, sehingga perlu tambahan impor 5 juta KL lebih untuk mencukup kebutuhan 16 juta KL per tahun solar nasional," ujar Djoko.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads