Pemerintah menggandeng Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) membangun saluran transmisi listrik lintas negara yang menghubungkan Kalimantan Barat dengan Sarawak, Malaysia. Saluran ini akan menyediakan listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) ke 8.000 rumah tangga.
"Kesepakatan ini merupakan wujud kerjasama jangka panjang dengan negara tetangga, dan sebuah langkah maju bagi terciptanya interkonektivitas ASEAN,Z" ujar Kepala Perencanaan Sistem Perusahaan Listrik Negara (PLN), I Made Ro Sakya, dalam keterangan tertulis, Senin (28/6/2013).
Saat ini PLN menggunakan bahan bakar minyak untuk mengoperasikan pembangkit listrik di Kalimantan Barat. Hal ini menyebabkan harga listrik di kawasan tersebut menjadi mahal, mencapai 25 sen USD per kilowatt-jam (kWh).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek ini akan membangun jaringan transmisi sepanjang 145 kilometer, pengembangan gardu distribusi dan satu gardu induk untuk menjamin pasokan listrik yang memadai di Kalimantan Barat.
Selain itu, jaringan transmisi bertegangan tinggi and gardu induk lintas batas sepanjang 83 kilometer akan menghubungkan jaringan listrik Kalimantan Barat dengan Sarawak. Diperkirakan listrik sebesar 230 megawatt per jam dapat mengaliri jaringan tersebut.
"Ini adalah kerjasama yang saling menguntungkan. Kalimantan Barat mendapatkan pasokan energi ramah lingkungan dan memiliki pilihan sumberdaya. Sarawak dapat mengekspor listrik tenaga airnya yang pertama," ujar Spesialis Energi ADB, Sohail Hasnie.
Melalui proyek interkoneksi ini, PLN diperkirakan akan dapat menghemat $100 juta per tahun melalui pengurangan penggunaan bahan bakar minyak untuk pembangkit listriknya.
Selain pinjaman sebesar $49,5 juta, ADB juga akan mengelola pinjaman sebesar $49,5 dari badan pembangunan Perancis Agence Française de Dévelopment (AFP), serta hibah sebesar $2 juta dari Dana Multidonor untuk Energi Bersih (Multi-Donor Clean Energy Fund) yang merupakan bagian dari Fasilitas Kerjasama Pembiayaan untuk Energi Bersih (Clean Energy Financing Partnership Facility).
Saat ini pula, ADB sedang menyiapkan pinjaman proyek yang kedua, untuk membiayai saluran transmisi yang berada di Malaysia. Kedua negara sepakat untuk menuntaskan pembangunan ini pada bulan Desember 2014, agar dapat beroperasi pada 1 Januari 2015.
ADB, yang berkedudukan di Manila, bertekad untuk mengentaskan kemiskinan di kawasan Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan bagi lingkungan, dan terintegrasi secara regional.
Berdiri pada 1966, ADB dimiliki oleh 67 negara, 48 di antaranya berada di kawasan Asia-Pasifik. Pada 2012, bantuan ADB di kawasan ini mencapai US$ 21,6 miliar, termasuk pembiayaan bersama sebesar US$ 8,3 miliar. (ang/dru)











































