Dolar Tembus Rp 11.000, Pemasangan Alat Pengontrol BBM Terganggu

Dolar Tembus Rp 11.000, Pemasangan Alat Pengontrol BBM Terganggu

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Rabu, 18 Sep 2013 16:24 WIB
Dolar Tembus Rp 11.000, Pemasangan Alat Pengontrol BBM Terganggu
Jakarta - Pemasangan alat pengontrol konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi, Radio Frequency Identification (RFID), terganggu. Kendala ini muncul karena adanya fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini kemudian berpengaruh terhadap harga alat RFID yang masih didatangkan dari China dan Korea Selatan.

"Sekarang juga terkendala, dolar AS naik luar biasa. Sementara dulu bikin proposal bisnis sesuai tamplet, itu dolar Rp 9.700. Itu proposal Februari-Maret. Sekarang harganya sudah Rp 11.000 tentu ada adjustment," ucap Direktur Utama PT INTI (Persero) Tikno Sutisna kepada wartawan di Jakarta, Rabu (18/9/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

INTI bertugas memasang dan mendatangkan alat canggih yang di pasang pada kendaraan roda 2 dan roda 4. Selain fluktuasi nilai tukar rupiah, INTI juga menghadapi persoalan pendanaan untuk pengembangan dan produksi RFID di Indonesia. INTI masih menunggu pendanaan dari perbankan untuk memproduksi dan mendatangkan RFID.

"Jadi begini saya sudah sampaikan bahwa ada modal sendiri, ada modal perbankan. Nah, perbankan mempersyaratkan ada 20-30% dana sendiri baru selebihnya dari bank. Sementara proses ke perbankan butuh waktu. Begitu kita usulkan kenapa permasalahannya sekarang kita ada percepatan, tentu di perbankan masih diproses," katanya.

Diakuinya tahap awal pemasangan RFID difokuskan di area DKI Jakarta. Diproyeksi sebanyak 4,5 juta mobil akan terpasang RFID tahap I di DKI Jakarta. Namun pihaknya tidak merinci kapan proses ini bisa selesai.

"Bertahap sekarang sudah mulai pasang RFID secepatnya," terangnya.

Setelah mampu memproduksi di dalam negeri, setiap tahunnya INTI bakal memproduksi mesin RFID di dalam negeri.

"Kita sedang siapkan kebutuhan nanti per tahun pertumbuhan tumbuh asumsi dari data yang ada di Pertamina. Tiap tahun ada 10% pertumbuhan kendaraan," sebutnya.

(hen/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads