Kondisi ini kemudian berpengaruh terhadap harga alat RFID yang masih didatangkan dari China dan Korea Selatan.
"Sekarang juga terkendala, dolar AS naik luar biasa. Sementara dulu bikin proposal bisnis sesuai tamplet, itu dolar Rp 9.700. Itu proposal Februari-Maret. Sekarang harganya sudah Rp 11.000 tentu ada adjustment," ucap Direktur Utama PT INTI (Persero) Tikno Sutisna kepada wartawan di Jakarta, Rabu (18/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi begini saya sudah sampaikan bahwa ada modal sendiri, ada modal perbankan. Nah, perbankan mempersyaratkan ada 20-30% dana sendiri baru selebihnya dari bank. Sementara proses ke perbankan butuh waktu. Begitu kita usulkan kenapa permasalahannya sekarang kita ada percepatan, tentu di perbankan masih diproses," katanya.
Diakuinya tahap awal pemasangan RFID difokuskan di area DKI Jakarta. Diproyeksi sebanyak 4,5 juta mobil akan terpasang RFID tahap I di DKI Jakarta. Namun pihaknya tidak merinci kapan proses ini bisa selesai.
"Bertahap sekarang sudah mulai pasang RFID secepatnya," terangnya.
Setelah mampu memproduksi di dalam negeri, setiap tahunnya INTI bakal memproduksi mesin RFID di dalam negeri.
"Kita sedang siapkan kebutuhan nanti per tahun pertumbuhan tumbuh asumsi dari data yang ada di Pertamina. Tiap tahun ada 10% pertumbuhan kendaraan," sebutnya.
(hen/ang)











































