Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa mengatakan Indonesia harus membangun kilang minyak baru untuk mengurangi ketergantungan impor BBM selama ini.
"Hasil keputusan rapat koordinasi tadi adalah pertama kita tetap harus bangun kilang, karena kita kan mengurangi ketergantungan impor kita terhadap BBM dan adanya kilang akan meningkatkan kemampuan dalam negeri kita," ungkap Hatta usai Rapat Koordinasi di Kantornya dengan Wamen ESDM, Dirut Pertamina, Dirut PLN dan Bappenas, Kamis (19/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saudara pernah tahu kita pernah bahas rencana investasi Kuwait dan Saudi Aramco, dari evaluasi kita, ternyata ada beberapa hal yang tidak bisa kita laksanakan dari pihak Kuwait yang bisa dikategorikan (bertentangan-Red) dengan perundang-undangan," kata Hatta.
Beberapa persyaratan yang diminta Kuwait tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah Indonesia.
"Permintaan terhadap yang menyangkut PPh badan, mereka minta 5%, padahal undang-undang kita mengatakan 25%. Disampung itu juga hal-hal menyangkut cuti dibebankan di depan, ini sulit karena menyangkut undang-undang. Namun yang (Saudi) Aramco masih terus diexersise," jelas Hatta.
Untuk itu kata Hatta, langkah dari Pertamina berdasarkan hasil rapat yang dilakukan yakni Pertamina akan melakukan pendekatan dengan 2 (dua) cara.
"Cara pertama investasi melalui Aramco tetap dijajaki, kedua melalui penugasan, ini artinya Pertamina melakukan pembangunan kilang tersebut," ucapnya.
"Kita sudah jajaki, bangun kilang ini nggak sekedar membangun tapi harus ada komitmen terhadap suplai crude (minyak mentah) minimum 300.000 barel per hari, yang sudah beri komitmen di samping Kuwait dan Aramco adalah Irak. Untuk itu Pertamina akan melakukan pendalaman, kita harapkan kedua pendekatan ini dua-duanya akan berhasil yakni melalui penugasan Pertamina dan investasi murni," tandas Hatta.
(rrd/dru)











































