"Kalau saya sarannya sih premium RON 88 dihilangkan saja. Kalau perlu nggak usah disubsidi, masa mau disubsidi terus," kata Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi saat dihubungi wartawan, Selasa (24/9/2013).
Budi mengatakan, selama bensin premium RON 88 masih ada, Indonesia susah ekspor mobil, khususnya ke Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mobil-mobil sekarang itu spesifikasinya sudah di atas RON 92, mobil saya yang Fortuner saja pakai RON 95. Tapi kalau masih banyak yang pakai premium RON 88 ya itu kembali lagi ke konsumen, cuma masalah edukasi saja sih, kalau masih ngotot pakai RON 88 percaya lama-lama mesinnya rusak," cetus Budi.
(rrd/dnl)











































