Konversi BBM ke Gas, Cuma Mimpi?

Gas, Apa Kabar (1)

Konversi BBM ke Gas, Cuma Mimpi?

- detikFinance
Rabu, 25 Sep 2013 09:14 WIB
Konversi BBM ke Gas, Cuma Mimpi?
Sebuah stasiun pengisian bahan bakar gas di Jakarta. (Foto: Detikcom)
Jakarta - Ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia sudah cukup akut. Konsumsi BBM mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari sementara produksi kurang dari 900 ribu barel per hari.

Akibatnya, bisa jadi cadangan minyak Indonesia akan habis dalam 12-15 tahun mendatang jika tidak ditemukan sumber cadangan baru. Padahal pemerintah sudah lama mendengungkan program konversi dari BBM ke gas. Apa kabarnya?

Sejauh ini program konversi tersebut baru berjalan di sektor rumah tangga, yaitu membuat masyarakat mengganti minyak tanah dengan elpiji ukuran 3 kilogram. Di sektor transportasi dan pembangkit listrik, belum ada kemajuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Komaidi, pengamat energi dari ReforMiner Institute, program ini seakan mandek karena pemerintah belum memiliki blueprint yang memadai. Program konversi itu baru ramai dibicarakan jika pemerintah hendak menaikkan harga BBM. Namun setelah harga naik, program itu bak mimpi belaka.

β€œPadahal hasil penghematan dari program ini sangat signifikan. Kami perhitungkan kalau pengguna premium dan solar di seluruh Indonesia sudah tidak ada, penghematannya bisa Rp 180 triliun. Ini bisa digunakan untuk membangun infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan,” papar Komaidi.

Hingga saat ini, tambah Komaidi, belum ada blueprint yang menjadi dasar pelaksanaan kebijakan konversi. Padahal kebijakan ini sangat strategis. β€œKalau untuk program sebesar ini, tetapi hal yang sangat mendasar tidak ada, ya bagaimana kesungguhannya?” ujarnya.

Dalam jangka pendek, Komaidi menegaskan pemerintah perlu menyusun blueprint program konversi yang matang. Pemerintah perlu melakukan identifikasi masalah, cara-cara penyelesaian masalah, dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang terkait baik di lingkup pemerintahan maupun swasta.

Menurut Neil Gilmour, Vice President Integrated Gas Development Shell, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan potensi gasnya. Untuk itu, dia mengemukakan sejumlah prasyarat yang perlu diperhatikan.

β€œCiptakan iklim yang baik untuk gas supaya bisa menggantikan BBM. Regulasi, harga, teknologi, itu penting. Pemerintah perlu menciptakan situasi yang kondusif, karena kebijakan yang berubah-ubah akan menyulitkan,” jelas Gilmour kepada detikFinance di Kuala Lumpur, Malaysia, kemarin.

Gilmour percaya bahwa nantinya gas akan mampu membuat Indonesia tidak lagi bergantung kepada BBM. β€œSaya optimistis terhadap Indonesia,” tegasnya.

Ketergantungan Indonesia terhadap BBM memang luar biasa. Akibat pasokan dalam negeri tidak mampu mencukupi permintaan, maka BBM harus diimpor. Setiap hari, Indonesia menghabiskan dana US$ 75 juta untuk mengimpor BBM. Tak heran kondisi ini menyebabkan membengkaknya defisit neraca perdagangan.

Pada Juli 2013, defisit neraca perdagangan tercatat sebesar US$ 2,13 miliar dan merupakan defisit bulanan tertinggi dalam sejarah. Sedangkan secara kumulatif Januari-Juli, defisit neraca perdagangan sebesar US$ 5,65 miliar.

Penyebab utama pembengkakan defisit neraca perdagangan adalah impor migas, terutama BBM. Selama Juli lalu, impor migas Indonesia mencapai US$ 4,1 miliar. Secara kumulatif, impor migas Januari-Juli adalah US$ 24,2 miliar.

(DES/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads