Makin Dekat, Gas Jadi Sumber Energi Utama

Gas, Apa Kabar (2)

Makin Dekat, Gas Jadi Sumber Energi Utama

Hidayat Setiaji - detikFinance
Rabu, 25 Sep 2013 12:07 WIB
Makin Dekat, Gas Jadi Sumber Energi Utama
BBM habis di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Jakarta. (foto Detikcom)
Kuala Lumpur - Minyak bumi diperkirakan akan semakin mahal dan langka. Pada saat yang sama, pertumbuhan kota-kota besar di Asia dan urbanisasi akan meningkatkan polusi karena pembakaran bahan bakar minyak (BBM) tak ramah lingkungan.

Maarten Wetselaar, Executive Vice President Royal Dutch Shell, mengatakan gas adalah energi alternatif terbaik. β€œIndonesia memiliki cadangan gas yang sudah terbukti sebanyak 104,25 triliun kaki kubik,” katanya dalam acara Shell Malaysia Innovation Summit di Kuala Lumpur, Malaysia, kemarin.

Ketergantungan Indonesia terhadap BBM memang akut. Konsumsi BBM mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari sementara produksi kurang dari 900 ribu barel per hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara gas, selain cadangan Indonesia cukup banyak, harganya pun murah. Saat ini harga gas setara satu liter adalah Rp 3.100. Sementara harga BBM bersubsidi adalah Rp 6.500 untuk premium.

"Gas bisa menjadi bahan bakar pembangkit listrik, mobil, bahkan pesawat. Lebih ekonomis dan lebih ramah lingkungan. Gas semakin mendekati potensinya sebagai sumber utama energi dunia," kata Wetselaar.

Alternatif energi lain memang ada. Contohnya adalah bahan bakar dari hidro (air) dan bahan bakar nabati (biofuel). Namun kedua bahan bakar ini memiliki keterbatasan untuk dikembangkan.

"Hidro pertumbuhannya terbatas, sementara biofuel ada masalah lahan dan pertentangan dengan pemenuhan kebutuhan pangan. Sebenarnya nuklir bisa menjadi pilihan, tetapi ada isu keamanan. Oleh karena itu, gas bisa menjadi pilihan," kata Wetselaar.

Sementara gas, memang tak lepas dari tantangan. Sejumlah kalangan menilai, eksplorasi gas di bawah laut berpotensi mempengaruhi kualitas air minum.

Sebuah penelitian yang dirilis oleh PennEnvironment Research & Policy Center setahun yang lalu menemukan bahwa penambangan gas dapat memberikan dampak negatif terhadap infrastruktur, kesehatan, dan lingkungan.

Penelitian itu menyoroti metode penambangan gas yang bernama fracking. Penambang menembakkan jutaan galon air bercampur bahan kimia ke dalam tanah untuk merekahkan sedimen tanah supaya gas alam terlepas. Bahan kimia inilah yang dikuatirkan membahayakan kesehatan dan meracuni air tanah.

Tapi Wetselaar bilang itu kesalahpahaman belaka. "Proses eksplorasi gas terjadi sangat dalam, sampai 3 kilometer di bawah permukaan laut. Posisi ini jauh dari sumber air minum," katanya.

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads