Rofi Munawar, Anggota Komisi VII DPR, mengatakan program LCGC tidak terintegrasi dengan baik. “LCGC tidak mendukung upaya konversi BBM ke gas,” katanya, di Jakarta kemarin.
Program mobil murah, kata Rofi, berpotensi membuat konsumsi BBM meningkat. Padahal, di sisi lain pemerintah ingin mengendalikan konsumsi BBM. Meskipun kemudian pemerintah berencana 'memaksa' pengguna LCGC memakai bahan bakar nonsubsidi, Rofi tak yakin itu akan efektif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
MS Hidayat, Menteri Perindustrian, mengaku sudah mendengar seluruh keluhan seputar LCGC. “Saya sudah merekamnya dan kami akan berbuat sebaik mungkin,” ujarnya.
Meski banyak mendapat kritik, Hidayat meyakini bahwa LCGC akan membawa dampak positif bagi Indonesia. Salah satunya adalah tumbuhnya industri otomotif yang membuat Indonesia tidak lagi sekedar menjadi pasar ketika pasar bebas ASEAN berlaku pada 2015.
Mobil murah buatan Malaysia dan Thailand, sebut Hidayat, sudah siap masuk ke pasar Indonesia. Dengan adanya LCGC, Indonesia dapat bertahan dari serbuan itu. Bahkan Indonesia bisa mengekspor LCGC ke negara-negara lain.
Kemudian, tambah Hidayat, LCGC juga akan mendatangkan investasi dan menyerap tenaga kerja. “Industri komponen ada 100 yang baru. Ini menjadi stepping stone untuk menjadikan 100 persen teknologi dikuasai oleh Indonesia,” tuturnya.
Lantas bagaimana dengan program konversi? Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Budi Darmadi, pada pekan lalu, mengatakan pemerintah masih harus memperbanyak infrastruktur pengisian bahan bakar gas.
Selain itu, program konversi juga masih menunggu insentif potongan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) sebesar 20 persen bila mobil dipasangi converter kit.
Pertanyaannya, mengapa mobil LCGC tak memakai bahan bakar gas saja? Budi bilang kebijakan energi nasional masih mengacu pada minyak sebagai bahan bakar. “Industri otomotif itu mengikuti kebijakan energi nasional,” katanya lagi.
(DES/DES)











































