"Saat bertemu dengan Jepang itu salah satunya yang dibahas adalah soal PLTU Batang," ujar Staf Khusus Kepresidenan Firmanzah saat ditemui di Nusa Dua, Bali, Selasa (8/10/2013)
PLTU Batang merupakan salah satu proyek yang dibiayai oleh Jepang dengan nilai US$ 4 miliar atau kurang lebih Rp 40 triliun. Kapasitasnya mencapai 2x1000 MW merupakan PLTU terbesar di Asia Tenggara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pertemuan tersebut juga membahas kerjasama yang bisa dijalin dari kedua negara. Perdagangan harus semakin ditingkatkan ke depannya. "Kemudian juga dibahas soal kerjasama," pungkasnya
Sebelumnya Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan saat ini sudah dibebaskan lahan seluas 187 hektar dari total 192 hektar. Hatta juga memaparkan beberapa kendala untuk menyelesaikan persoalan lahan tersebut kepada pihak Jepang.
"Saya sampaikan tadi sudah ada sekitar 200 hektar terbebaskan, relatif tinggal kecil (sedikit), karena Oktober harus financial closing. Jadi begitu, khawatir pembebasan lahan, yang sisa itu adalah lahan-lahan yang vital," jelasnya.
Hatta mengatakan, PLTU tersebut sangat penting. Sebab, secara kapasitas pembangkit itu paling besar di Asia Tenggara. "Khusus untuk Central Java powerplant, itu adalah salah satu pembangkit listrik bisa dikategorikan terbaik dan terbesar 2 x 1.000 MW," sebut Hatta.
(mkl/hen)











































