Ini merupakan kali pertama BII membukukan laba di atas Rp 1 triliun dalam 9 bulan. Peningkatan laba didorong oleh naiknya pendapatan bunga bersih (NII) 10% dari Rp 3,9 triliun pada Januari-September 2012, menjadi Rp 4,3 triliun pada periode yang sama tahun ini, karena pertumbuhan kredit serta perbaikan kualitas aset.
Persaingan ketat antar bank yang memberi tekanan pada marjin bunga bersih (NIM) perbankan telah menyebabkan penurunan tipis pada NIM BII menjadi 5,37% pada Januari-September 2013, dibandingkan 5,88% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pendorong naiknya kinerja BII ini adalah Kualitas aset terjaga baik sebagaimana tercermin dari perbaikan NPL (rasio kredit bermasalah) gross mencapai 1,74% per 30 September 2013, dari 2,08% per 30 September 2012. NPL net naik tipis menjadi 1,02% dari 0,87%.
Penurunan tajam dari beban provisi sebesar 33% mencapai Rp 582 miliar per 30 September 2013 dibandingkan Rp 868 miliar periode yang sama tahun sebelumnya juga jadi pendorong peningkatan kinerja BII, meskipun kredit tercatat tumbuh 21% sebagai hasil dari kualitas portofolio yang lebih baik dan manajemen recovery.
Kemudian ada juga peningkatan pendapatan dari fee sebesar 19%, dari Rp 1,4 triliun menjadi Rp 1,7 triliun yang terutama disebabkan oleh pendapatan dari surat berharga.
Lalu laba bersih yang dihasilkan oleh WOM yang merupakan perusahaan pembiayaan milik BII juga mendorong peningkatan kinerja. WOM mencatatkan laba bersih Rp 59,9 miliar pada Januari-September 2013, setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya rugi Rp 36,8 miliar.Β
(dnl/dnl)











































