Ini Alasan Pemerintah RI Pilih Impor Listrik dari Malaysia

Ini Alasan Pemerintah RI Pilih Impor Listrik dari Malaysia

Rista Rama Dhany - detikFinance
Selasa, 19 Nov 2013 13:35 WIB
Ini Alasan Pemerintah RI Pilih Impor Listrik dari Malaysia
Jakarta - Indonesia pada akhir 2014 akan mengimpor listrik dari Serawak Malaysia sebesar 200 megawatt (MW). Kapasitas listrik yang diimpor ini lebih besar dari yang telah diimpor selama ini. Apa alasannya?

"Alasan kita impor listrik karena untuk menurunkan biaya, sambil kita memperkuat infrastruktur listrik kita," kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman, ditemui di acara International Conference Power Plant and Energy Jakarta Summit di Hotel Rizt Carlton Mega Kuningan, Selasa (19/11/2013).

Jarman mengungkapkan, dengan impor listrik dari Serawak-Malaysia ke Pontianak-Kalimantan Barat, biaya listriknya lebih murah dibandingkan membangkitkan listrik dengan menggunakan diesel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Pontianak kan sekarang ini pembangkit listriknya sebagian besar menggunakan solar, yang biaya produksi listriknya mencapai Rp 3.500 per kWh, sedangkan dengan impor listrik dari Malaysia hanya Rp 900 per kWh, karena di Malaysia pembangkit listriknya tenaga air," ungkapnya.

Jarman menambahkan, impor listrik dari Malaysia ini lebih memberikan banyak manfaat, karena memproduksi listrik dengan tenaga diesel, pasokan solarnya juga dapat dari impor.

"Dua-duanya ini impor, tapi kalau produksi listrik pakai solar lebih mahal, kalau impor listriknya jauh lebih murah," kata Jarman.

Impor solar yang dilakukan Indonesia ini hanya sementara, karena menunggu pembangunan pembangkit di Kalimantan Barat selesai.

"Kita kan juga sendang bangun pembangkit listrik dengan batubara (PLTU) di Kalbar, ya kalau sudah cukup listriknya maka tidak perlu lagi impor kan. Tiga tahun lagi pembangkit barubaranya juga jadi, ini (impor) hanya untuk memperkuat sistem kelistrikan sehingga listrik di Kalimantan Barat akan berkurang pemakainan BBM-nya," kata Jarman.

Meski begitu, lanjut Jarman, pada 2018 mendatang Indonesia juga akan mengekspor listrik ke Indonesia, dari Riau ke Semenanjung Malaysia. Kapasitas listrik yang diekspor 1.000 MW.

"Di Riau Sumatera kita juga akan ekspor listrik kok ke Semenanjung Malaysia, jadi walau kita sekarang impor listrik dari Malaysia nanti kita juga ekspor listrik ke Malaysia," kata Jarman.

"Ekspornya sebesar 1.000 MW, karena di Riau kita akan bangun pembangkit PLTU Batubara dengan kapasitas sebesar 2 x 1.000 MW," ucapnya.

Rencana ekspor listrik ini ditargetkan akan terjadi pada 2017-2018, dan saat ini sedang dalam tahap feasibility study (FS).

"Tahapannya saat ini sedang FS, diharapkan sekitar 2018-2019 sistem kelistrikan Sumatera Semenanjung sudah tekoneksi. Sementara Pernajian Pembelian Tenaga (PPA) nya juga sudah ditandatangani tahun lalu di depan Menteri ESDM di Bali," ungkapnya.

Alasan Malaysia impor listrik dari Indonesia, sama dengan alasan Indonesia mengimpor listrik dari Malaysia, yakni untuk efisiensi.

"Di Semenanjung listriknya menggunakan gas (PLTG), sementara di Sumatera nanti listriknya pakai batubara (PLTU), kan biaya listrik batubara jauh lebih murah dibandingkan dengan gas," jelasnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads