Insentif sering dituduh sebagai penyebab tidak berjalannya program ini. Menteri Keuangan Chatib Basri menceritakan sebuah langkah konversi di Peru yang sama sekali tidak ada insentif dari pemerintahnya. Program ini dimotori oleh perbankan melalui pembiayaan converter.
"Muncul sebuah program di Peru yang menarik. Bikin konversi yang kemudian converter-nya itu dibiayai oleh bank. Kemudian dibagikan gratis," ungkapnya kepada wartawan di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (29/11/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu orang berpikir rugi dong. Karena dibagikan gratis. Nah, tetapi ternyata cara yang dilakukan di Peru. Cara yang dilakukan di Peru adalah bank itu dapat kembali dari pembelian gasnya di pom bensin. Jadi dengan sendirinya dia dapat prosentase tertentu. Sehingga kreditnya balik kan," papar Chatib
Jadi, menurut Chatib jika dipraktekan di Indonesia, perbankan bisa bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Terutama dalam pemberian hasil penjualan gas.
"Jadi bukan orang yang bayar, tapi orang membayar dari pembelian gasnya di pompa bensin. Sehingga si bank itu, ya dia pasti dong pasarnya. Itu yang dilakukan di Peru. Saya enggak tahu. Ini yang saya mau bilang scheme itu ada, jadi kita bisa desain itu," terangnya.
Sementara kalau diberikan insentif untuk pembelian konverter, akan memerlukan penambahan pengawasan. Kemudiann, harus ada anggaran tambahan dari APBN.
"Kalau misalnya insentif tanpa dilakukan tanpa pemerintah mengeluarkan uang dan si private sektor-nya happy kenapa mesti keluarin uang. Karena kalau insentif mesti di kontrol lagi dengan pemerintah," ujarnya.
Kesuksesan program konversi akan menurutnya akan berdampak positif dari impor minyak yang selama ini membuat terjadinya defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Ini menurut Chatib dapat menganggu kestabilan persekonomian.
(mkl/ang)











































