"Sampai dengan Oktober, penghematan devisa itu adalah US$ 200 juta," ungkap Menko Perekonomian Hatta Rajasa usai rapat evaluasi paket kebijakan, di kantornya, Jakarta, Jumat (29/11/2013)
Angka tersebut merupakan bagian dari solar subsidi dan non subsidi. Penggunaan biodiesel ini dapat mengurangi impor solar dan berlanjut pada penghematan devisa. Hatta menuturkan, kebijakan ini cukup berjalan dengan baik. Terlihat dari penyaluran ke Pertamina yang tidak ada hambatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk program yang termasuk dalam paket kebijakan tersebut, menurutnya juga berjalan normal. Menteri Keuangan Chatib Basri menuturkan. kebijakan insentif PPh pasal 25 untuk mencegah pengangguran sudah berhasil.
"Ada 69 perusahaan yang mengambil insentif ini. Yang mencakup perusahaan tekstil, alas kaki, dan furniture, jumlah tenaga kerja yang bisa diselamatkan relatif besar, dari sisi ini cukup berhasil, dia harus tanda tangan tidak PHK," papar Chatib pada kesempatan yang sama
Kemudian adalah pajak buku dengan pembebasan PPN. Seterusnya adalah relaksasi produk ekspor yang bertujuan untuk menahan perusahaan untuk tidak malkukan relokasi.
"Dari info yang lebih detil saya tidak mau menyebutkan, perusahaan asia timur banyak yang mengambil insentif tersebut," ucapnya.
Hatta mengatakan, pemerintah menargetkan penghematan devisa hingga US$ 456 juta dari pemanfaatan biodiesel hingga akhir tahun.
"Dalam catatannya penghematan untuk PSO (BBM subsidi) tercatat US$ 298 juta dan non PSO sebesar US$ 158 juta," ungkap Hatta.
Chatib Basri mengatakan, kebijakan biodiesel ini membantu mengurangi defisit neraca perdagangan yang terjadi selama ini. Karena akan terkait dengan pengurangan impor BBM.
"Kalau bisa dihemat itu selama ini defisit yang besar datangnya kan dari migas. Ini kan mengurangi impor minyak dan neraca perdagangan jadi lebih baik," ujar Chatib.
(mkl/dnl)











































