Pemerintah Klaim Hemat Devisa US$ 200 Juta dari Program Biodiesel

Pemerintah Klaim Hemat Devisa US$ 200 Juta dari Program Biodiesel

- detikFinance
Jumat, 29 Nov 2013 18:02 WIB
Pemerintah Klaim Hemat Devisa US$ 200 Juta dari Program Biodiesel
Jakarta - Pemerintah mencatat penghematan devisa US$ 200 juta atau sekitar Rp 2 triliun dari pemanfaatan biodiesel. Penghematan ini dihitung dua bulan setelah kebijakan penggunaan biodisel 10% terhadap BBM solar dikeluarkan, yaitu pada Agustus 2013.

"Sampai dengan Oktober, penghematan devisa itu adalah US$ 200 juta," ungkap Menko Perekonomian Hatta Rajasa usai rapat evaluasi paket kebijakan, di kantornya, Jakarta, Jumat (29/11/2013)

Angka tersebut merupakan bagian dari solar subsidi dan non subsidi. Penggunaan biodiesel ini dapat mengurangi impor solar dan berlanjut pada penghematan devisa. Hatta menuturkan, kebijakan ini cukup berjalan dengan baik. Terlihat dari penyaluran ke Pertamina yang tidak ada hambatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tadi dilaporkan Pertamina dan ESDM, sampai Oktober target itu akan tercapai, dengan catatan bahwa semua suplai tidak terjadi gangguan," ujarnya.

Sementara untuk program yang termasuk dalam paket kebijakan tersebut, menurutnya juga berjalan normal. Menteri Keuangan Chatib Basri menuturkan. kebijakan insentif PPh pasal 25 untuk mencegah pengangguran sudah berhasil.

"Ada 69 perusahaan yang mengambil insentif ini. Yang mencakup perusahaan tekstil, alas kaki, dan furniture, jumlah tenaga kerja yang bisa diselamatkan relatif besar, dari sisi ini cukup berhasil, dia harus tanda tangan tidak PHK," papar Chatib pada kesempatan yang sama

Kemudian adalah pajak buku dengan pembebasan PPN. Seterusnya adalah relaksasi produk ekspor yang bertujuan untuk menahan perusahaan untuk tidak malkukan relokasi.

"Dari info yang lebih detil saya tidak mau menyebutkan, perusahaan asia timur banyak yang mengambil insentif tersebut," ucapnya.

Hatta mengatakan, pemerintah menargetkan penghematan devisa hingga US$ 456 juta dari pemanfaatan biodiesel hingga akhir tahun.

"Dalam catatannya penghematan untuk PSO (BBM subsidi) tercatat US$ 298 juta dan non PSO sebesar US$ 158 juta," ungkap Hatta.

Chatib Basri mengatakan, kebijakan biodiesel ini membantu mengurangi defisit neraca perdagangan yang terjadi selama ini. Karena akan terkait dengan pengurangan impor BBM.

"Kalau bisa dihemat itu selama ini defisit yang besar datangnya kan dari migas. Ini kan mengurangi impor minyak dan neraca perdagangan jadi lebih baik," ujar Chatib.
(mkl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads