"Kita semua tahu produksi minyak dari kilang minyak dalam negeri kecil, tapi kenapa tidak bangun kilang. Kalau ditanya mau kilang seperti apa, loh bukannya Pertamina sudah mendatangkan 2 investor yang mau bangun kilang," ujar Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan dalam rapat dengan Komisi VI DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (5/12/2013).
Karen mengungkapkan, 2 investor yang berminat membangun kilang di Indonesia adalah Kuwait Petroleum dan Saudi Aramco. Kedua investor tersebut sudah mempunyai komitmen akan memberikan produksi BBM sebesar 600.000 barel atau masing-masing sebesar 300.000 barel per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena insentif kilang yang tidak kunjung dapat dari Kementerian Keuangan, Pertamina mengambil langkah untuk menjalin kerjasama dengan pihak ketiga untuk mengoptimalkan kilang minyak yang ada.
"Harapannya feed stock-nya memang tetap tetapi output (hasil produksinya) akan menjadi lebih, ini yang sedang kita garap dengan UOP LLC (anak perusahaan Honeywell), karena kita tidak bisa tergantung terus dengan impor minyak dari negara lain," ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Jero Wacik mengakui, keberadaan kilang minyak baru sangat penting di tengah kondisi ketergantungan impor minyak yang tinggi. Apalagi kondisi rupiah yang terpuruk terhadap dolar, membuat impor minyak makin mahal.
Namun yang terjadi saat ini, tidak ada satupun kilang minyak baru yang mulai dibangun. Menurut Jero, kondisi ini terjadi karena pemerintah terlalu banyak berdebat.
"Saya sudah setujui, kenapa sekarang mandek, tanyalah Pak Menkeu (Menteri Keuangan Chatib Basri) di mana macetnya? Kalau saya ditanya kapan bangunnya ya kemarin sudah bikin, mau itu dananya dari APBN, mau swasta yang penting cepat bikin, terlalu banyak berdebat kita ini," kata Jero beberapa waktu lalu.
(rrd/dnl)











































