Menurut Karen sebagai Nasional Oil Company (NOC) yang bergerak disektor upstream migas yang memiliki risiko tinggi, namun Pertamina sebagai BUMN atau perusahaan negara dibebani tidak boleh rugi, karena bisa dianggap sebagai kerugian negara.
"Kalau misalnya Pertamina investasi seperti akuisisi di luar negeri, lalu rugi, siapa yang bertanggung jawab? di Pertamina sama dengan tata kelola corporation lain, jadi yang namanya aset yang akan diberi itu semua harus dilakukan kajian teknis, kita juga ada konsultan independen, setelah melalui pengkajian lalu dirapatkan ke direksi, direksi setuju lalu ke komisaris, komisaris setuju lalu ke pemenang saham (pemerintah), kami juga harus lakukan tandatangan fakta integritas dimana kita tidak ada kepentingan terhadap aset pembelian aset tersebut, jadi kalau ditanya siapa yang tanggung jawab kalau rugi? ya semuanya," terang Karen dalam rapat dengan Komisi VI DPR, Kamis (5/12/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pak kalau misalnya investasi di sektor hulu migas tidak boleh rugi ya lebih baik Pertamina tidak usah jadi perusahaan NOC saja," ungkapnya.
Karen mengatakan karena perusahaan hulu migas, bagaimanapun kajian teknik yang dilakukan pasti masih ada risiko.
"Yang namanya perusahaan hulu migas, seberapapun bagusnya kajian teknik, pasti masih ada risiko, walaupun sudah pakai konsulten independen, pakai lawyer lihat kontraknya, masih ada risiko. Yang penting kita sudah mitigasi risiko kalau 100% risk free untuk upstream sepertinya Pertamina harus keluar dari bisnis ini," ungkapnya.
Karen mencontohkan CEO Petronas perusahaan minyak asal Malaysia, mendapatkan kebebasan untuk menggunakan dana US$ 10 miliar atau sekitar Rp 100 triliun untuk investasi dan itu seperti perjudian, artinya jika dapat hasil bagus, ketika rugi pun tak masalah.
"Saya ingin sampaikan Tan Sri (Shamsul Azhar Abas) 12 tahun jadi CEO Petronas. Dia menyampaikan bahwa waktu saya jadi CEO Petronas saya diberikan pemerintah Malaysia dana US$ 10 miliar untuk gamble, kenapa dia bilang gamble karena saya atau kita tidak tahu investasi di upstream seperti apa hasilnya, walaupun kita sudah pakai teknologi center yang tinggi," katanya.
"Itu mengapa mereka (Petronas) bisa ada di Sudan dan lainnya, karena diberikan keleluasaan, tapi di Pertamina kan itu tidak, di sini kita sungguh sangat hati-hati. Seperti Akuisisi Pertamina di Australia, sudah dilakukan berbagai kajian, pakai konsultan independen, tapi saat kita bor ternyata tidak sama hasilnya seperti saat kita lakukan kajian," tandas Karen.
(rrd/hen)











































