Menteri Keuangan Chatib Basri mengaku optimistis, kebijakan pemanfaatan biofuel yang telah dikeluarkan akan menekan impor minyak. Namun butuh waktu untuk pengurangan impor tersebut. Seperti diketahui, saat ini ada kewajiban setiap liter solar yang dijual harus mengandung 10% biofuel.
"Program biofuel pasti ini juga membutuhkan waktu. Kalau tidak ingin membutuhkan waktu, apa dong?" ungkap Chatib di kantornya, Jakarta, Senin (9/12/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah itu tanya sama ESDM," sebutnya.
Chatib mengatakan, masih tingginya impor minyak bulan lalu dikarenakan gangguan pada kilang Balongan. Menurutnya ini hanya bersifat sementara, dan kedepan impor diharapkan terus menurun.
"Trade deficit bulan yang lalu, karena impor minyak mentahnya naik gara-gara ada overhaul (perawatan) di Balongan. Kan saya bilang waktu itu ini sementara," ujar Chatib.
Seperti diketahui, impor hasil minyak terdiri dari impor premium yang sebesar 1,04 juta ton atau US$ 1,06 miliar. Kemudian bahan bakar pesawat 1.856 ton atau US$ 2,66 juta. Kemudian bahan bakar diesel 775 ribu ton atau US$ 685,3 juta dan hasil minyak lainnya 424 ribu ton atau US$ 390,8 juta.
(mkj/dnl)











































