Sebuah mesin pembangkit listrik teronggok merana. Tubuhnya yang sudah berkarat di beberapa bagian, nyaris tenggelam ditutupi potongan kulit-kulit kelapa. Di langit-langit tampak sarang rayap yang basah.
Beranjak ke belakang bangunan yang beratap seng itu, tampak sebuah sungai kecil yang mengalir menuruni tebing-tebing, seperti air terjun. Tak jauh dari sana sebuah pipa mengular ke arah bangunan mesin, tapi di bagian atas tampak terputus dan ada air yang mengucur keluar dari sana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejatinya mesin pembangkit listrik tenaga mikrohidro itu mampu menghasilkan daya listrik sebesar 16.000 watt. “Bisa untuk 100 rumah,” kata Luther Tier, 34 tahun, petugas Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang bertugas di desa tersebut.
Tapi sejak dibangun pada 5 tahun lalu, mesin itu tak pernah beroperasi. Pemilik tanah menolak pembangunannya karena dinilai telah melanggar hak ulayat. “Mereka masuk tanpa permisi, harga diri kami tidak mereka hargai,” kata Oktovianus Tier, 44 tahun, pemilik tanah.
Oktovianus bilang, dirinya dan warga desa itu tak anti pada pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang ramah lingkungan itu. Kalau pihak pembangun itu datang lagi dan mau bicara, dia yakin izin akan diberikan. “Sampai sekarang mereka tak datang lagi,” kata dia.
Siapa mereka? Masih simpang siur. Luther mengatakan, pembangunnya dari pihak pemerintah daerah. Tapi sumber lain mengatakan pembangunnya adalah pihak swasta.
Pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di Demta itu adalah salah satu contoh kasus pembangunan sumber energi terbarukan yang terkendala masalah tanah di Papua. Riska mengatakan, ada banyak contoh kasus proyek terhenti gara-gara lahan di Papua.
Riska bilang pihaknya akan mencari lokasi-lokasi lain yang mengalami masalah seperti di Demta. Mesin-mesin pembangkit listrik yang mangkrak akan dihidupkan lagi. “Masyarakat sangat membutuhkannya,” ujar dia.
Papua terbilang sebagai kawasan yang kaya akan sumber daya energi terbarukan, seperti air. Riska menyebutkan, solusi semacam itu sangat cocok di Papua yang luas hutannya mencapai 30 juta hektare (25 persen dari total hutan di Indonesia). Lagipula, model ini ramah lingkungan.
Masih banyak masyarakat Papua yang tinggal di daerah terpencil. Di seluruh Papua yang luasnya lebih dari 300 ribu kilometer persegi, hanya ada 55 lokasi listrik desa (Lisdes).
Salah satu Lisdes ada di Demta. Luther Tier mengoperasikan mesin itu saban hari. Genset ini mampu menghasilkan daya listrik sampai 130.000 Watt.
Kalau sedang dalam proses perbaikan, Luther memakai mesin cadangan supaya masyarakat tak gelap-gelapan saat malam tiba. Lantaran terbatasnya pasokan bahan bakar dan kapasitas, Lisdes itu hanya beroperasi mulai pukul 18.00-06.00 WIT.
Alhasil warga harus terbiasa hidup tanpa listrik pada siang hari. Tak ada perangkat elektronik yang bisa menyala pada saat matahari bersinar, kecuali mengandalkan baterai sendiri.
Para nelayan di sana tak bisa menyimpan hasil tangkapannya yang berlebih. Menara Base Transceiver Station (BTS) yang mengandalkan mesin pembangkit listrik sendiri pun tak teratur operasinya, tergantung ketersediaan bahan bakar. Kalau saja pembangkit listrik tenaga mikrohidro itu menyala, tentu pasokan listrik lebih banyak
Sejatinya, warga berharap bisa menikmati listrik selama 24 jam, bukan 12 jam. “Pendapatan warung saya bisa meningkat lagi karena bisa menyimpan dagangan yang perlu dibekukan atau didinginkan,” kata Sambraini, seorang pemilik toko kelontong, yang mengaku omzetnya mencapai Rp 1 juta per hari.
(DES/DES)











































