Tapi apa mau dikata? Inilah provinsi dengan tingkat rasio elektrisitas yang masih rendah dibandingkan kawasan lain di nusantara. Menurut Dinas Pertambangan dan Energi setempat, jangkauan listrik baru mencapai 42,8 persen, itu pun sudah merupakan gabungan dari pembangkit listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan non-PLN.
Kapasitasnya pun ternyata tak maksimal, sehingga sering terjadi pemadaman. “Boleh dikatakan memang terjadi krisis listrik di sini,” kata Jonathan, dari Seksi Konservasi Ketenagalistrikan Dinas Pertambangan dan Energi Provisi Papua, di Depapre, Jayapura, pada pekan lalu.
PARALLAX IN DETAIL
300x250
300x250
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khusus di Jayapura, beban puncak listrik di sana adalah 50.674 kW dan daya mampu pembangkit di sana mencapai 57.600 kilowatt. Tahun depan diperkirakan ada kenaikan kebutuhan 14.500 kW lagi. Di seluruh Papua, diperhitungkan kenaikan kebutuhan sebesar 9,4 persen per tahun.
“Kebutuhan itu, mau tak mau harus dipenuhi,” kata Jonathan.
Tahun ini, kata Jonathan, direncanakan selesai penambahan lima pembangkit listrik tenaga diesel dengan kapasitas 3 MW. Tahun depan ada 2 pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 10 MW di Genyem.
Terkait energi terbarukan, Jonathan bilang ada rencana pembangunan PLTA Kyu yang direncanakan beroperasi pada 2017. Kapasitasnya adalah 1.253 MW dengan investasi mencapai Rp 16 triliun. PLTA ini dibangun di Sungai Urumuka, Distrik Timika.
Tak adakah sumber energi terbarukan yang lain? Riska Sari, Sustainable Energy Coordinator WW Indonesia, mengatakan Papua memiliki sumber energi biomassa dan tangkapan air untuk pembangkit skala mikrohidro.
Sumber biomassa antara lain ampas sagu, sekam padi, ampas kayu putih, dan sisa gergaji. “Selama ini hanya dibuang begitu saja,” kata Riska.
Limbah padi di Papua mencapai 114.011 ton per tahun. Limbah jagung 11.018 ton per tahun. Sedangkan limbah singkong mencapai 47.733 ton per tahun. Masih ada sumber-sumber lain yang berasal dari perkebunan dan kehutanan.
Total, kalau menurut perhitungan Dinas Pertambangan dan Energi, limbah ini mencapai 4.281.248 ton per tahun. Ini setara dengan energi sebesar 199.151 MWh. Belum termasuk biogas yang berasal dari limbah peternakan sapi, babi, dan unggas.
Ahmad Dermawan dari Center for International Forestry Research (Cifor) mengatakan saat ini sedang ada tren negara-negara beralih ke sumber energi terbarukan seperti biomassa. “Termasuk China sebagai konsumen terbesar batubara dan Jepang, setelah kebocoran reaktor nuklir,” kata dia.
(DES/DES)
