Penyebab Subsidi BBM Tinggi: 10 Tahun Otomotif Terjual 66,3 Juta Unit, Naik 319%

Penyebab Subsidi BBM Tinggi: 10 Tahun Otomotif Terjual 66,3 Juta Unit, Naik 319%

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Rabu, 18 Des 2013 17:52 WIB
Penyebab Subsidi BBM Tinggi: 10 Tahun Otomotif Terjual 66,3 Juta Unit, Naik 319%
Foto: Macet (dok.detikFinance)
Jakarta - Neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia saat ini defisit, karena tingginya impor minyak dan BBM. Ketergantungan BBM tinggi karena besarnya pertumbuhan kendaraan bermotor.

Pada Januari-Oktober 2013, defisit neraca perdagangan migas telah mencapai US$ 22,5 miliar atau melonjak 21% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara neraca perdagangan non migas surplus US$ 4,2 miliar.

Chief Economist and Director for Investor Relation PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan, untuk mengatasi defisit neraca transaksi berjalan, pemerintah seharusnya memangkas subsidi bahan bakar minyak (BBM). Meskipun transaksi berjalan tetap defisit, tapi setidaknya tidak membengkak terlalu besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami memproyeksikan defisit itu dipengaruhi oleh volume penjualan kendaraan per bulan, harga minyak mentah Indonesia (ICP/Indonesia Crude Price), dan harga bahan bakar premium. Dengan asumsi harga BBM Rp 10 ribu, negara masih defisit Rp 20 triliun," kata Budi saat ditemui di Graha Niaga, Jakarta, Rabu (18/12/2013).

Dia menjelaskan, selama ini tidak banyak yang tahu bahwa selama 10 tahun hingga Oktober 2013, penjualan otomotif mencapai 66,3 juta unit atau melonjak 319% dibanding dekade sebelumnya. Sekitar 59,5 juta unit dari tambahan penjualan itu merupakan penjualan sepeda motor.

Selain itu, faktor harga minyak menjadi faktor yang paling menentukan tingginya defisit neraca transaksi berjalan, setiap 1% kenaikan ICP akan berbanding lurus kepada beban subsidi BBM sebesar 1,15%.

Faktor lain yang paling mempengaruhi adalah penjualan kendaraan dengan taksiran setiap 1% kenaikan penjualannya akan memicu pertambahan defisit sebesar 0,63%.

Dia mencontohkan, dengan asumsi harga ICP US$ 106 per barel dan mempertahankan hrga premium di angka Rp 6.500 per liter, defisit neraca minyak per bulan diproyeksikan sebesar US$ 1,74 miliar dengan asumsi apabila penjualan otomotif naik 10%.

Dengan menggunakan asumsi kurs Rp 11.000/US$, defisit neraca minyak tahun ini ditaksir mencapai Rp 229 triliun atau lebih besar dari alokasi APBN 2013 revisi yang mencapai Rp 200 triliun.

Budi mengatakan, beranikah pemerintah menaikkan harga premium menjadi Rp 10.000 dan membatasi penjualan kendaraan bermotor hingga tidak bertumbuh?

"Kami menaksir defisit neraca minyak mencapai US$ 19,8 miliar. Angka ini tetap lebih besar dari rata-rata surplus non-migas," terangnya.

Namun, penurunan subsidi tersebut dapat memperkuat keuangan negara dan lebih mendorong masyarakat melakukan penyesuaian.

Hal itu juga mengindikasikan proyeksi subsidi BBM bersifat sensitif terhadap kurs rupiah. Pelemahan rupiah yang diakibatkan oleh penguatan dolar maupun pembayaran utang luar negeri yang tidak dapat diantisipasi, memberatkan beban subsidi BBM dalam mata uang rupiah.

Itu sebabnya pemerintah semstinya mempercepat upaya mengendalikan konsumsi BBM untuk menyehatkan keuangan negara.

"Penyehatan keuangan negara ini memungkinkan arus masuk dana asing yang membantu penguatan rupiah," tandasnya.

(drk/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads