Cerita Brasil Sukses dan RI yang Gagal Kembangkan Biofuel

Cerita Brasil Sukses dan RI yang Gagal Kembangkan Biofuel

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 23 Des 2013 17:43 WIB
Cerita Brasil Sukses dan RI yang Gagal Kembangkan Biofuel
Jakarta - Direktur Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agricultural Organization (FAO) Indroyono Susilo menceritakan kisah Brasil sukses mengembangkan biofuel atau bahan bakar nabati (BBN). Sedangkan Indonesia justru bernasib sebaliknya, padahal kedua negara tersebut memulai pada periode yang sama.

Pada tahun 1980-an negara dari belahan Amerika Selatan tersebut sudah memulai biofuel, yaitu dengan memanfaatkan ampas tebu sebagai tambahan pada bahan bakar minyak (BBM).

"Tahun 1980-an itu Brasil sudah memulai dengan biofuel. Alkohol dari ampas tebu. Itu karena sudah diprediksi bahwa konsumsi minyak akan meningkat," ujar Indroyono saat berbincang dengan wartawan di sebuah restoran, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Senin (23/12/2013)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbagai tantangan dihadapi Brasil kala itu soal harga minyak yang mendadak turun pada awal 1990-an. Program pengolahan ampas tebu hampir saja ditinggalkan oleh pelaku usaha.

"Awal tahun 1980-an itu kan naik harga minyak US$ 85/barel. Sehingga ramai ingin olah ampas tebu. Kemudian turun harga minyak menjadi US$ 9/barel. Nah itu kan bikin ragu, terutama pengusaha," ujarnya.

Untungnya, menurut Indroyono pemerintah Brasil berhasil meyakinkan program tersebut. Berlanjut ke industri kendaraan bermotor, juga dipersiapkan agar dapat menyesuaikan kondisi mesin.

"Sehingga sekarang hampir semua atau 90% mobil di Brasil itu menggunakan kombinasi ampas tebu. Untung besar kan. Tebunya jadi gula, ampasnya jadi minyak. Sekarang impor minyak mereka juga tidak besar kan," katanya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Indroyono mengatakan Indonesia sudah menerapkan hal yang sama pada awal tahun 1980-an. Dengan memprediksi harga minyak akan naik dan kebutuhan juga terus meningkat.

"Kalau Brasil menggunakan ampas tebu, Indonesia itu menggunakan ampas singkong. Itu sekitar tahun 1982," ungkapnya.

Sayangnya, program itu terhenti pada tahun 1987. Di mana ketika harga minyak mulai merosot turun hingga awal 1990-an. Padahal saat ini harga minyak mencapai pada kisaran US$ 105/barel.

"Jadi Indonesia memang kurang konsisten pada programnya. Makanya sekarang kebutuhan minyak tinggi," katanya.

(mkj/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads