Masyarakat Kalimantan Utara Lebih Cinta Elpiji Impor Asal Malaysia

Masyarakat Kalimantan Utara Lebih Cinta Elpiji Impor Asal Malaysia

Robert - detikFinance
Kamis, 02 Jan 2014 18:42 WIB
Masyarakat Kalimantan Utara Lebih Cinta Elpiji Impor Asal Malaysia
Samarinda - Produk elpiji 12 Kg buatan Petronas, Malaysia yang beredar di Kabupaten Tanah Tidung (KTT), Kalimantan Utara, tetap menjadi primadona. Kenaikan harga elpiji 12 Kg milik Pertamina semakin membuat masyarakat perbatasan tak melirik produk buatan dalam negeri ini.

Secara geografis, wilayah KTT sebagai wilayah pemekaran dari Kabupaten Bulungan, bukan wilayah yang berbatasan dengan negeri jiran, Malaysia. Faktanya, elpiji impor seperti produksi Petronas dan Shell, lebih mudah ditemui masyarakat setempat.

"Di sini kami gunakan elpiji dari Tawau Malaysia. Harganya kami beli langsung di agen Rp 220.000 bisa tahan sampai 3 bulan. Kalau elpiji besar dari Pertamina, langka. Adanya ukuran 3 kg itu pun tidak ada peminatnya," kata warga Tideng Pale, Herman, kepada detikFinance, Kamis (2/1/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Herman menilai kualitas elpiji Malaysia selain bisa bertahan hingga 3 bulan, juga memiliki kualitas baja yang lebih bagus. Hal itu menjadi salah satu pertimbangan masyarakat KTT lebih memilih produk elpiji Malaysia ketimbang dalam negeri.

"Elpiji Pertamina mau naik nggak ngaruh ke kami di sini. Kami tetap gunakan punya Malaysia, lebih tebal. Kalau ukuran 3 kg, tanggung. Lagi pula ukuran 3 kg tipis, rawan," ujar Herman.

"Bagi kami itu yang terpenting pasokan ada, barang ada. Kalau beli 12 kg Pertamina tapi kalau beli lagi susah didapat, bagaimana? Tidak mungkin kami gunakan 3 kg," tambahnya.

Sedangkan, Andi seorang warga Tideng Pale lainnya menyebutkan, harga elpiji keluaran Petronas yang dibelinya akan naik menjadi Rp 230.000 apabila menggunakan jasa antar hingga ke rumah.

"Kami tidak pernah pakai punya Indonesia, punya Pertamina. Kami di sini pakai Malaysia. Tidak cuma di Nunukan yang dekat dengan Malaysia yang pakai punya Malaysia. Kami di sini juga pakai punya Malaysia, lebih bagus kualitasnya," ujar Andi.

"Selama saya tinggal di sini dari Bulungan sejak 2006, saya tidak pernah lihat elpiji Pertamina ukuran besar. Adanya ukuran kecil 3 kg. Jadi kalau mau naik (elpiji) Pertamina, ya kami tetap gunakan elpiji Malaysia," tegas dia.

"Di (Kalimantan) utara ini, sama saja. Mau di Malinau, Bulungan apalagi di Nunukan, lebih banyak gunakan Malaysia. Tidak perlu heran lagi kalau kami di sini pakai elpiji Malaysia," tutupnya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads