Misalnya Acha (46), pemilik kedai Bakmi Acha di Cempaka Putih Barat, Jakarta mengaku tetap menahan harga jualnya di harga yang sama. Pertimbangannya, ia masih harus mempertimbangkan kondisi pelanggannya.
"Nanti akan ada kenaikan harga, tapi sekarang dan beberapa waktu ke depan tahan dulu, kita lihat-lihat dulu," ujar dia saat ditemui di Kedai Bakmi Acha di Jalan Raya Mardani, Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat, Jumat (3/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beratlah. Dari Rp 87 ribu naik Rp 50 ribu, berat. Sehari kita bisa ngabisin minimal 2 tabung gas 12 kg. Harapannya jangan dinaikkin, naik juga jangan setinggi itu, standar saja Rp 100 ribu misalnya. Intinya naik boleh tapi jangan terlalu tinggi," jelasnya.
Saat ini, Acha menyebutkan, harga mie miliknya masih dipatok dengan harga yang sama yaitu Rp 10 ribu untuk mie ayam biasa, Rp 12 ribu mie ayam pangsit, rica-rica, dan jamur, Rp 13 ribu mie ayam ceker, Rp 14 ribu mie ayam bakso, dan Rp 15 ribu untuk mie ayam special.
Acha yang sudah 12 tahun berjualan mie ini mengaku bisa mengantongi omzet hingga Rp 2 juta per hari. Namun, dengan kenaikan harga gas yang tidak diikuti kenaikan harga jual mie nya pastinya akan mengurangi omzet yang diperolehnya.
"12 tahun berjualan di sini. Omzet per harinya bisa Rp 1,5-Rp 2 juta. Kalau gasnya naik tinggi, omzet kita pasti berkurang," tandasnya.
(drk/hen)











































