Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku salah terkait kebijakan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga elpiji 12 Kg mulai 1 Januari lalu. Dahlan mengungkapkan alasannya mengambil sikap 'pasang badan' untuk Pertamina dan mengaku salah dengan keputusannya.
"Harus ada yang berani bertanggung jawab..hehe... Ini untuk menyelamatkan PT Pertamina, baik dari sorotan BPK maupun kelangsungan dan masa depan Pertamina," kata Dahlan kepada detikFinance dalam pesan singkatnya, Senin (6/1/2014).
Dahlan menegaskan, selama ini Pertamina didorong untuk menjadi perusahaan kelas dunia. Kenaikan harga elpiji 12 Kg untuk mengurangi kerugian Pertamina menjadi bagian penting masa depan Pertamina sebagai sebuah perusahaan energi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Dahlan mengaku salah atas kekisruhan yang terjadi terkait kenaikan harga elpiji 12 kg. Menurutnya hal itu disebabkan karena kurang koordinasi antara perusahaan dengan pemerintah saat menetapkan kebijakan itu.
"Semua saya yang salah. Kurang koordinasi, saya yang salah," ungkap Dahlan usai rapat kabinet terbatas bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (5/1/2014).
Dahlan menuturkan, kebijakan Pertamina merupakan tidak lanjut dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Disebutkan, perusahaan selalu rugi setiap tahunnya sejak 2009 karena bisnis gas elpiji yang non subsidi.
"Pertamina harus patuh dengan BPK. Karena ini non subsidi. Pertamina takut dengan BPK. Makanya Pertamina memilih untuk menaikkan harga elpiji," sebutnya.
Dari sisi pemerintah menyebutkan kenaikan harga dari Rp 70.200 menjadi Rp 117.708 per tabung terlalu tinggi. Sehingga menimbulkan dampak yang besar terhadap masyarakat. Dahlan mengatakan, oleh karena itu persoalan ini dibahas kembali.
"Jadi harga ini dianggap ketinggian. Nggak apa-apa, kita akan tinjau ulang kembali. Semuanya saya yang salah," ujar Dahlan. (hen/dnl)











































